“Wajar kalau perhitungannya meleset karena tidak ada studi lapangan yang benar. Jepang kalau pun overrun, nilainya kecil karena mereka sudah ukur semua sejak awal,” jelasnya.
Baca Juga: Rizky Ridho masuk nominasi FIFA Puskas Award 2025 berkat gol spektakuler dari tengah lapangan
China, kata dia, justru mulai melakukan survei lapangan ketika proyek sudah berlangsung.
ICW: Perencanaan Whoosh tidak matang
Dari perspektif tata kelola, Indonesian Corruption Watch (ICW) juga menyoroti lemahnya perencanaan proyek Whoosh.
Peneliti ICW, Almas Sjafrina, menilai bahwa pemerintah terlihat kelabakan menghadapi beban pembayaran utang karena aspek perencanaan awal tidak matang.
“Yang bikin bingung, kok sekarang baru ribut cara bayarnya? Harusnya ini sudah dipikirkan sebelum proyek jalan,” kata Almas dalam podcast yang diunggah kanal YouTube Bambang Widjojanto, Selasa 11 November 2025.
Baca Juga: Perumda TRS: Kualitas air Cibulakan kini jernih usai tambang ditutup
Menurutnya, persoalan Whoosh terjadi karena kajian kebutuhan, target penumpang, dan proyeksi pendapatan tidak dilakukan secara mendalam sejak awal.
“Kalau perencanaan beres, 50 persen pekerjaan sudah selesai,” tegas Almas.***