Cerita lain datang dari Depok. Unggahan akun @depokfeed memperlihatkan menu MBG sederhana di salah satu SD negeri di Mampang, kentang rebus, wortel, pangsit goreng, saus saset, dan jeruk.
Meski dinilai 'minimalis', sebagian pihak menilai sajian itu masih bisa memenuhi kebutuhan gizi dasar anak sekolah.
Pertanyaan publik: Standar atau selera daerah?
Perbedaan mencolok antar daerah ini memunculkan diskusi soal standar gizi dan pengawasan implementasi MBG.
Sebagian menganggap perbedaan wajar karena kondisi logistik dan bahan lokal berbeda. Namun ada pula yang menilai perlu pedoman visual baku agar citra program tak tergerus persepsi 'asal kenyang'.
Program MBG sejatinya dirancang untuk menghadirkan keadilan gizi bagi anak-anak sekolah di seluruh Indonesia, apa pun daerahnya.
Kini, publik menanti bagaimana BGN menjawab perbedaan di lapangan agar Rp10 ribu per porsi benar-benar terasa bernilai sama bagi semua.***