news

Analis: Prabowo harus lebih sering bicara lewat media, bukan influencer

Minggu, 31 Agustus 2025 | 23:24 WIB
Analis komunikasi politik sekaligus pendiri Lembaga Survei KedaiKopi, Dr. Hendri Satrio (Hensa) (Tangkapan layar YouTube/Jangkrik Bos Ala Hensa)

GENMILENIAL.ID – Analis komunikasi politik sekaligus pendiri Lembaga Survei KedaiKopi, Dr. Hendri Satrio (Hensa), menilai Presiden Prabowo Subianto perlu memperkuat komunikasi langsung dengan media massa, bukan influencer, untuk meredakan kegelisahan publik.

Menurut Hensa, media masih memegang peran vital sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

Intensitas komunikasi yang jelas dan konsisten diyakini akan membuat pesan pemerintah lebih mudah diterima rakyat.

Baca Juga: Analis: Prabowo harus lebih sering bicara lewat media, bukan influencer

“Saya ngajuin dua solusi. Pertama, Pak Prabowo mesti berkomunikasi intens dengan jurnalis di media massa. Dengan kondisi saat ini, media massa lah yang bisa menenangkan masyarakat,” ujarnya dalam sebuah wawancara, dikutip dari AboutMalang.com, Minggu 31 Agustus 2025. 

Media sering terpinggirkan

Hensa menilai, sejak era Presiden Joko Widodo hingga kini, media kerap terpinggirkan dari lingkaran kekuasaan.

Padahal, media massa memiliki peran strategis dalam menjembatani pemerintah dengan rakyat.

“Selama ini penguasa, baik di zaman Pak Jokowi maupun sekarang diteruskan Pak Prabowo, seolah-olah melupakan media massa sebagai kekuatan,” tambahnya.

Baca Juga: Prabowo minta DPR dan pemerintah buka ruang dialog: Aspirasi rakyat harus didengar langsung

Jaga legitimasi publik

Menurut Hensa, keterbukaan komunikasi melalui media tidak hanya menenangkan publik, tetapi juga menjaga legitimasi kepemimpinan nasional.

Pandangan ini diperkuat data survei Indonesian Presidential Studies (IPS) UGM 2022 yang menunjukkan 74,4 persen publik masih lebih percaya pada media formal seperti TV, radio, dan koran, dibandingkan media sosial yang hanya meraih kepercayaan 12,7 persen.***

Tags

Terkini