“Sesuai dengan kondisi obyektif hilal pada malam hari ini memang dari Indonesia bagian timur, tengah, sampai bagian barat, di ekor pulau Jawa itu tidak dimungkinkan untuk bisa menyaksikan hilal,” katanya.
Karena itu, Aceh sebagai wilayah yang paling barat di Indonesia juga harus ditunggu hasil laporan hilalnya.
“Sesuai dengan laporan tadi, ketinggian hilal di seluruh Indonesia itu antara 3 derajat 5,91 menit hingga 4 derajat 40,96 menit dengan sudut elongasi 4 derajat 47,3 menit hingga 6 derajat 24,14 menit,” jelas Nasaruddin.
“Ditemukan hilal di provinsi paling barat di Aceh, sudah disumpah oleh hakim, sehingga dua orang yang menyaksikan ditambah dengan pengukuhan oleh hakim agama setempat maka diputuskan bahwa 1 Ramadhan ditetapkan Insya Allah 1 Maret 2025,” terang Nasaruddin lagi.
Pemantauan hilal di 125 titik di seluruh Indonesia
Anggota Tim Hisab Rukyat Kemenag Cecep Nurwendaya kemudian menjelaskan tentang bagaimana proses untuk melihat hilal sebagai awal Ramadan.
Cecep mengumumkan jika ada 125 titik pemantauan hilal di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Spesifikasi BBM Pertamina berdasarkan Dirjen Migas: Pertamax ada timbal, Pertalite malah tak ada
Dalam pemaparannya, pemerintah menggunakan metode rukyat dan hisab dalam pemantauan hilal ini.
Hisab berarti informatif, sedangkan kedudukan rukyat sebagai konfirmasi dari hisab tersebut.
Awal puasa Ramadhan pemerintah dan Muhammadiyah berbarengan
Muhammadiyah sudah lebih dulu mengumumkan awal Ramadan yang jatuh pada 1 Maret 2025 sejak 12 Februari 2025 lalu.
Mengutip dari laman resmi Muhammadiyah, dengan hisab yang dipedomani Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat, awal Ramadan jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025 sesuai dengan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 1/MLM/1.0/E/2025.