Aksi cepat warga di sekitar lokasi menjadi faktor penting yang mencegah kecelakaan antara kereta dan truk.
Tanpa adanya palang pintu yang tertutup, potensi tabrakan sebenarnya sangat besar.
Kondisi ini pun memicu kekhawatiran publik terkait keamanan perlintasan sebidang, terutama pada jam-jam rawan saat pengawasan dinilai minim.
Peristiwa tersebut langsung menuai berbagai reaksi dari warganet yang menyoroti kelalaian petugas.
KAI akui pelanggaran prosedur
Menanggapi kejadian tersebut, pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) memberikan klarifikasi.
Dalam pernyataannya, KAI mengakui bahwa petugas yang berjaga saat itu tidak menjalankan tugas sesuai prosedur operasional standar (SOP).
“Petugas yang berdinas saat itu diketahui tidak menjalankan tugas sesuai dengan prosedur,” tulis pihak KAI.
Sebagai tindak lanjut, petugas yang bersangkutan telah diberikan pembinaan dan tidak lagi ditugaskan di lokasi tersebut.
Selain itu, KAI juga memperkuat pengawasan dengan pendampingan langsung dari petugas terkait di lapangan.
KAI memastikan bahwa insiden ini tidak berdampak pada perjalanan KA Brantas yang tetap berjalan sesuai jadwal.
Evaluasi keselamatan perlintasan
Artikel Terkait
Kang Rey hadiri penandatanganan mega proyek kereta api: Jabar perkuat konektivitas lewat kerja sama dengan PT KAI
Suami Anita Dewi minta maaf usai kisruh tumbler hilang di KRL, KAI pastikan tak ada petugas yang dipecat
Advokat pengurus KAI DPD Banten diduga ditusuk oknum debt collector di Tangsel, polisi buru pelaku
Viral bocah foto di lokomotif di Stasiun Tawang, ternyata bernama Kai dan pecinta kereta
Blokade rel viral di Lampung berujung laporan polisi, KAI tegaskan aksi ini berbahaya dan melanggar hukum
Dirut KAI tegaskan posisi gerbong perempuan bukan soal gender, utamakan keselamatan
Viral dugaan penumpang KRL pakai pin ibu hamil palsu, KAI ingatkan untuk cek keaslian: Ada logo dan masa aktif