Gus Miftah ajak rawat kebhinekaan dalam ngabuburit lintas Iman di Gereja Sleman

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Minggu, 8 Maret 2026 | 10:04 WIB
Tokoh agama Gus Miftah menyampaikan orasi kebangsaan dalam kegiatan ngabuburit lintas iman di Gereja Maria Bunda Allah, Maguwoharjo, Sleman, yang dihadiri ratusan tokoh lintas agama, Sabtu 7 Maret 2026 (Dok. Istimewa)
Tokoh agama Gus Miftah menyampaikan orasi kebangsaan dalam kegiatan ngabuburit lintas iman di Gereja Maria Bunda Allah, Maguwoharjo, Sleman, yang dihadiri ratusan tokoh lintas agama, Sabtu 7 Maret 2026 (Dok. Istimewa)

GENMILENIAL.ID – Kegiatan ngabuburit dan orasi kebangsaan bersama 200 tokoh lintas agama digelar di Gereja Maria Bunda Allah, Maguwoharjo, Sleman, Sabtu 7 Maret 2026. 

Kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi lintas iman sekaligus upaya merawat kebhinekaan di tengah masyarakat.

Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya tokoh Islam Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah serta Danrem 072/Pamungkas Brigjen TNI Bambang Sujarwo.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 200 buku karya Gus Miftah berjudul Merawat Kebhinekaan Menyemai Kerukunan dibagikan kepada para peserta yang hadir.

Baca Juga: Kasad Maruli serahkan bantuan rumah untuk keluarga prajurit gugur, tegaskan tetap jadi keluarga besar TNI AD

Refleksi intoleransi di Indonesia

Buku tersebut lahir dari kegelisahan Gus Miftah terhadap berbagai peristiwa intoleransi yang dinilai masih terjadi di Indonesia.

Beberapa kasus yang disorot antara lain perusakan rumah ibadah, penolakan pembangunan gereja, pelarangan ritual keagamaan kelompok minoritas, hingga maraknya ujaran kebencian di media sosial.

Melalui bukunya, Gus Miftah mengajak masyarakat untuk merefleksikan kondisi tersebut.

Ia mempertanyakan mengapa bangsa yang menjunjung tinggi Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika masih menghadapi persoalan intoleransi.

Baca Juga: Viral dugaan menu MBG berisi ulat di SMP Pasundan 9 Bandung, muncul chat guru cari penyebar video

Menurutnya, intoleransi dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kekerasan fisik, kebijakan publik yang diskriminatif, hingga ujaran kebencian di ruang digital.

“Saya percaya bahwa kerukunan tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Ia harus dirawat, dijaga, dan diperjuangkan oleh semua elemen bangsa. Tanpa perlawanan kolektif terhadap intoleransi, kita akan kehilangan rumah besar bernama Indonesia,” ujar Gus Miftah.

Pentingnya literasi toleransi

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X