“Rata-rata modusnya sampai dalih (yaitu) mengambil sampel darah, DNA, dan dibius (untuk melakukan) pemerkosaan pada korban,” imbuhnya.
Hingga kini, penyidik baru menetapkan satu tersangka dalam kasus ini, yakni Priguna Anugerah Pratama, peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad).
Surawan pun mendorong korban-korban lainnya untuk berani melapor agar kasus dapat diproses secara hukum.
"Iya kita mendorong. Kalau yang satu sih sebelum Lebaran sudah mau kita minta keterangan cuman keburu Lebaran. Kita masih menunggu,” jelasnya.
Waktu itu didampingi kuasa hukum juga si korban ini. Kita masih menunggu waktunya untuk datang dia," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra Rochmawan, menyampaikan bahwa pihak kepolisian membuka kanal pengaduan bagi masyarakat yang pernah menjadi korban dengan pelaku yang sama.
“Ada kemungkinan (jumlah korban bertambah), tetapi kami menunggu dari korban berikutnya (untuk melapor). Kami membuka layanan laporan lainnya, kami terbuka,” tegas Hendra.
Kasus ini masih terus didalami dan berpotensi berkembang lebih luas, seiring dengan terbukanya peluang pengaduan dari korban lain yang mungkin selama ini memilih diam.***
Artikel Terkait
Kasus perundungan di UNDIP, Ibunda dokter Aulia sebut kematian anaknya akibat kerja yang dipaksa pihak PPDS
Polda Jabar bongkar identitas peserta PPDS Unpad yang diduga perkosa keluarga pasien di RSHS: Spesialis anestesi
Komentar Dirut RSHS Bandung soal peserta PPDS Unpad diduga perkosa keluarga pasien: Otak kriminal, bukan belajar
Buntut rudapaksa keluarga pasien RSHS, STR dokter residen pelaku kekerasan seksual dicabut Kemenkes
Polisi ungkap motif dokter residen yang bius dan perkosa anak pasien RSHS: Akan diperkuat dengan forensik
Takut ditangkap, dokter PPDS Unpad pemerkosa anak pasien RSHS sempat coba bunuh diri
Kejamnya dokter PPDS perkosa anak dari pasien yang sedang alami masa kritis dan kini meninggal dunia