GENMILENIAL.ID - Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kian menjadi sorotan publik di Indonesia.
Berdasarkan data dari Komnas Perempuan, kasus KDRT terus meningkat setiap tahunnya, mencerminkan krisis yang semakin mendalam di masyarakat.
Fenomena ini tidak hanya menghancurkan rumah tangga tetapi juga mempengaruhi kualitas hidup korban, termasuk anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan.
1. Fakta di Lapangan
KDRT dapat berupa kekerasan fisik, psikologis, seksual, hingga ekonomi. Ironisnya, banyak korban yang tidak melaporkan kejadian tersebut karena takut atau merasa malu.
Banyak dari mereka yang memilih untuk berdiam diri, berharap situasi akan membaik, meskipun kenyataannya sering kali berakhir tragis.
Baca Juga: Manfaat konsumsi daun pinus untuk kesehatan serta cara konsumsinya
Meningkatnya jumlah laporan terkait KDRT juga mencerminkan keberanian sebagian korban untuk mencari bantuan, meski jalan menuju keadilan masih panjang dan penuh tantangan.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak korban yang tidak memiliki akses ke dukungan yang memadai, baik dari sisi hukum maupun psikologis.
2. Penyebab dan dampak
Penyebab KDRT sangat beragam, mulai dari masalah ekonomi, perselingkuhan, hingga budaya patriarki yang masih kental di masyarakat.
Lingkungan yang permisif terhadap kekerasan, serta kurangnya pemahaman akan hak-hak individu, turut memperparah kondisi ini.
Dampak dari KDRT tidak hanya dirasakan oleh korban secara langsung, tetapi juga oleh anak-anak yang menyaksikan atau menjadi korban kekerasan.
Baca Juga: KPU Kabupaten Subang pastikan 50 Anggota DPRD Subang terpilih sudah serahkan LHKPN