Menurut data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2018, prevalensi stunting di Indonesia sebesar 27,7%, yang berarti sekitar 9,8 juta anak Indonesia menderita stunting.
Deformitas lebih sering terjadi pada anak yang tinggal di pedesaan (30,8%) dibandingkan anak perkotaan (23,4%).
Selain itu, prevalensi stunting bervariasi di setiap provinsi di Indonesia, tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Timur (48,9%) dan terendah di provinsi DKI Jakarta (12,2%).
Baca Juga: Musim hujan? inilah 6 tips menjaga kesehatan tubuh saat musim hujan agar tidak mudah sakit
Jika terjadi stunting, apakah anak bisa kembali mengalami pertumbuhan yang normal? Sayangnya, stunting merupakan gangguan pertumbuhan yang tidak bisa dinormalisasi.
Dengan kata lain, jika seorang anak mengalami pertumbuhan yang lambat sejak masa kanak-kanak, maka pertumbuhannya akan terus melambat hingga mencapai usia dewasa.
Maka dari itu, tidak ada cara lain selain mencegahnya, cara mencegah stunting bisa dilakukan dengan pemberian pola asuh yang tepat, memberikan MPASI yang optimal, mengobati penyakit yang dialami anak, perbaikan kebersihan lingkungan dan penerapan hidup bersih keluarga.
Sebagai orang tua yang baik, harus selalu memperhatikan faktor-faktor pertumbuhan anak agar selalu sehat dan normal. (Ghin Ninda Wr)***
Artikel Terkait
Jangan dibuang, inilah ragam manfaat biji nangka untuk kesehatan tubuh
Ragam manfaat minyak zaitun untuk kesehatan dan kecantikan, simak penjelasannya
Wow, berikut 5 manfaat daun kemangi buat kesehatan, salah satunya dapat mencegah depresi dan stres
5 Manfaat wijen untuk kesehatan, salah satunya dapat menjaga kesehatan mata
Bukan hanya melancarkan ASI, inilah 6 manfaat daun katuk untuk kesehatan tubuh
Musim hujan? inilah 6 tips menjaga kesehatan tubuh saat musim hujan agar tidak mudah sakit
Pentingnya cuci tangan untuk kesehatan, seperti ini manfaatnya