Kajian Rumasa juga terbuka untuk masyarakat umum, baik bapak-bapak maupun ibu-ibu.
Untuk mencatat kehadiran, peserta menggunakan sistem barcode. Perhitungan absensi resmi untuk program voucher umrah akan dimulai pada awal Oktober 2026.
Dalam satu bulan, peserta diwajibkan mengikuti tiga kali pertemuan. Artinya, jemaah diberikan jatah libur satu kali dalam setiap bulan tanpa menggugurkan kesempatan mengikuti program voucher umrah.
Rajin kajian bisa dapat voucher umrah
Yang menarik, kehadiran jemaah dalam kajian tersebut nantinya berkaitan dengan program voucher umrah.
Baca Juga: Buntut temuan rumah mewah Lapas Cibinong: 55 Napi diperiksa, salah satunya Ferdy Sambo
Program voucher umrah resmi dimulai pada Oktober 2026 setelah kajian berjalan selama dua bulan. Sistemnya menggunakan periode enam bulan atau satu semester.
Setiap peserta yang memenuhi syarat kehadiran akan mendapatkan satu voucher pada setiap semester. Dengan demikian, dalam satu tahun peserta bisa mengumpulkan dua voucher.
Namun, tidak semua peserta dapat mengikuti program voucher tersebut.
Karyawan internal maupun tour leader tetap diperbolehkan mengikuti kajian, tetapi tidak mendapatkan voucher. Program voucher dikhususkan bagi jemaah yang berasal dari luar staf internal perusahaan.
Dicky menegaskan, umrah dalam program tersebut merupakan bonus atau bentuk rezeki bagi jemaah yang beruntung. Inti utama kegiatan tetap berada pada kajian rutinnya.
“Inti dari kegiatan ini adalah kajian rutin. Umrah hanyalah bonus atau bentuk rezeki bagi jemaah yang beruntung,” ujarnya.
Jemaah diharapkan tidak salah niat dan menjadikan kajian sebagai tujuan utama, bukan semata-mata mengejar hadiah umrah.
Pengundian voucher umrah setahun sekali