karir-bisnis

Pergerakan HURIP Srimanganti bekerja sama dengan Keraton Sumedang Larang, gerakkan ekonomi petani lewat jagung hibrida

Minggu, 6 September 2026 | 10:55 WIB
Ketua Pembina Forum Bumdes Jawa Barat Urip Soeprianto (Bos Urip), Radya Anom Keraton Sumedang Larang Rd. Luky Djohari Soemawilaga, Budayawan Ki Maher, serta petani dan kelompok tani dalam diskusi publik, Sabtu, 5 September 2026

Baca Juga: Warga Bandung riuh mencari sumber dentuman misterius, ada hubungannya dengan erupsi Anak Krakatau?

Program tersebut tidak hanya menyasar petani di Kabupaten Sumedang. Dalam diskusi, hadir petani dan tokoh kelompok tani dari sejumlah daerah, di antaranya Cianjur, Kuningan, Bogor, Subang, Bekasi, dan Sumedang.

Luky menyebut jumlah peserta yang hadir bahkan melampaui kuota awal. Dari kuota sekitar 50-60 orang, jumlah peserta yang tercatat dalam daftar hadir mencapai 70 orang.

“Kuota kami hari ini antara 50-60 orang tapi yang datang didaftar hadir ada 70 orang, overload artinya animo masyarakat besar dan mereka ingin meningkatkan produktifitas, meningkatkan kesejahteraanya itu besar,” ujarnya.

Untuk wilayah Sumedang, rencana penanaman jagung hibrida akan dilakukan pada September hingga November 2026. Beberapa lokasi yang disebut antara lain Ujung Jaya, Tomo, Sumedang Kota, Jatigede, dan Darmaraja.

Baca Juga: Gunung Anak Krakatau dilaporkan alami erupsi, warga cemaskan adanya dentuman berulang

Keraton menjadi ruang penguatan ekonomi

Ketua panitia kegiatan, Muhammad Amin Muhyidin atau Jhon, mengatakan kolaborasi dengan Keraton Sumedang Larang tidak hanya dimaksudkan untuk mengangkat sisi kebudayaan, tetapi juga menghubungkannya dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Ya, pertama bagaimana kemudian dari sisi ekonomi. Lalu, kenapa di Keraton Sumedang Larang? Ini untuk membangkitkan sisi budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, salah satunya melalui pengembangan jagung hibrida. Kita sudah mempunyai pangsa pasar yang jelas, tinggal bagaimana sekarang dari sisi SDM, baik kemauan maupun kesempatannya,” kata Jhon.

Menurut Jhon, keberadaan pasar menjadi salah satu persoalan penting yang ingin dijawab melalui program tersebut.

Ia menyebut masyarakat selama ini dapat menanam berbagai komoditas, tetapi menghadapi persoalan ketika hasil pertanian akan dipasarkan.

Baca Juga: Momen penghuni apartemen Pavilion Jakpus dievakuasi, turun tangga lewat balkon hingga dijemput Bronto Skylift

“Banyak sekarang nanam cabe, nanam jagung tapi konteks pemasarannya susah. Nah ini kan udah jelas tadi dengan penjelasan dari pihak perusahaan, dari pihak Syngenta gitu kan. Kita sudah jelas semua. Tinggal mau nggak kita melakukan itu semua untuk kesejahteraan pada umumnya,” ujarnya.

Ia juga melihat sejarah pertanian Sumedang sebagai salah satu pijakan dalam mengembangkan program tersebut.

Salah satunya konsep terasering yang dikaitkan dengan Pangeran Mekah, gelar Pangeran Aria Suria Atmadja, Bupati Sumedang yang menjabat pada 1883-1919.

Halaman:

Tags

Terkini