Santri belajar dunia tunanetra
Momen paling berkesan dalam kegiatan ini adalah sesi edukasi dan simulasi ketunanetraan yang dipandu langsung oleh anggota PERTUNI.
Para santri diajak memahami bagaimana penyandang tunanetra menjalani aktivitas sehari-hari, mulai dari cara berjalan, membaca huruf Braille, hingga berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Ketua Yayasan As-Syifa Al-Khoeriyyah, Dr. K.H. Lalu Agus Pujiartha yang turut hadir dalam kegiatan pembinaan dan pengajian, menekankan bahwa empati dan kepedulian adalah bagian penting dari pendidikan akhlak.
“Anak-anak harus belajar melihat keistimewaan manusia bukan dari fisiknya, tapi dari semangat dan keteguhan hatinya,” pesannya.
Baca Juga: Indonesia catat kasus penipuan digital tertinggi di dunia, kerugian warga capai Rp7 triliun
Pesan inklusivitas dari Subang
Program 'Menyapa dengan Hati' menjadi bukti bahwa pendidikan pesantren dapat menjadi ruang tumbuhnya nilai inklusif dan kemanusiaan.
Kolaborasi As-Syifa dan PERTUNI menegaskan bahwa kepedulian bukan sekadar slogan, melainkan tindakan nyata membangun masyarakat yang lebih adil dan beradab, di mana setiap individu, tanpa memandang keterbatasan fisik, memiliki ruang untuk dihormati dan berkontribusi.***