humaniora

Sinopsis buku 'Islam dan Sosialisme' karya HOS Tjokroaminoto

Selasa, 29 April 2025 | 19:42 WIB
Buku Islam dan Sosialisme karya HOS Tjokroaminoto (Instagram.com/@indonesiabookstore.id)

GENMILENIAL.ID - Islam dan Sosialisme adalah karya pemikiran penting dari Haji Oemar Said Tjokroaminoto, salah satu tokoh perintis kebangkitan nasional Indonesia.

Buku ini bukan sekadar respons terhadap situasi sosial-politik kolonial di awal abad ke-20, tetapi juga upaya serius untuk merumuskan jalan perjuangan bangsa berdasarkan nilai-nilai Islam yang progresif.

Dalam buku ini, Tjokroaminoto menguraikan bagaimana Islam bukan hanya agama yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga sistem hidup yang lengkap, mencakup ekonomi, politik, dan sosial.

Baca Juga: IFG dukung kreativitas jurnalis foto melalui Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2025 di Solo

Ia melihat Islam sebagai kekuatan pembebas yang menentang segala bentuk penindasan dan eksploitasi, khususnya yang dilakukan oleh sistem kolonial dan kapitalisme asing.

Di sisi lain, Tjokroaminoto membaca perkembangan sosialisme di Eropa sebagai sebuah gerakan yang juga bertujuan membebaskan rakyat dari penindasan kelas.

Namun, sebagai seorang Muslim yang taat, ia menolak sosialisme dalam bentuknya yang ateistik.

Oleh karena itu, melalui buku ini ia mencoba menyusun sintesis antara nilai-nilai keadilan sosial yang dibawa oleh sosialisme dengan prinsip-prinsip ketuhanan dalam Islam.

Baca Juga: BRI Mediapreneur Talks Promedia bakal digelar di Kota Serang, Banten: Bahas tuntas tantangan jurnalis di era digital

Baginya, sosialisme yang diterima di Indonesia haruslah 'sosialisme yang Islami', bukan yang menolak Tuhan.

Buku ini juga menjadi medan kritik terhadap dua kutub ideologi dunia saat itu: kapitalisme dan komunisme.

Kapitalisme dikritik karena membiarkan kesenjangan ekonomi dan menindas rakyat kecil, sementara komunisme ditolak karena menghilangkan dimensi spiritual dan agama.

Tjokroaminoto menawarkan Islam sebagai jalan ketiga yang menjunjung keadilan sosial, namun tetap berakar pada moralitas dan tauhid.

Baca Juga: Bimbingan manasik terakhir digelar, 1.163 calon jemaah haji Subang siap berangkat

Halaman:

Tags

Terkini