Melawan dua penjajahan: Kolonialisme dan totalitarianisme
Di masa revolusi, Syahrir menulis Perjuangan Kita, karya penting yang merefleksikan pandangan politiknya.
Baca Juga: Jalin keakraban lewat olahraga, PT Dahana dan GreenTeams gelar laga voli persahabatan
Ia mengkritik kekerasan yang dilakukan atas nama revolusi dan memperingatkan bahaya kediktatoran, baik dari kiri maupun kanan.
Ia berkata:
“Kita sedang menciptakan manusia baru yang berpikir dan bertindak merdeka, bukan manusia yang hanya mengganti penjajah.”
Baginya, kemerdekaan sejati bukan hanya mengganti kulit penguasa, tetapi mengubah cara berpikir bangsa—dari tunduk pada kekuasaan menuju warga negara yang kritis dan sadar haknya.
Pemikir yang tersisih
Ironisnya, sosok secerdas Syahrir perlahan terpinggirkan dari panggung politik nasional. Dalam suasana politik yang semakin keras dan penuh intrik, ia memilih jalan sunyi.
Baca Juga: Turun langsung ke desa, Kang Rey pastikan jalan rusak tak lagi jadi masalah warga
Namun warisan pemikirannya tak pernah mati—terus hidup dalam ruang-ruang diskusi, buku-buku sejarah, dan nurani anak muda yang masih percaya pada kekuatan akal sehat.
Warisan yang patut dikenang
Sutan Syahrir bukan sekadar politisi. Ia adalah moral compass dalam badai revolusi.
Dalam diamnya, ia mengajarkan bahwa politik tak harus gaduh, bahwa kekuasaan bisa dijalani dengan kesantunan dan integritas.
Generasi muda hari ini punya banyak alasan untuk membaca kembali pemikiran Syahrir.
Di tengah riuh rendah politik yang sering kehilangan arah, warisan idealismenya menjadi penanda bahwa kemerdekaan sejati dimulai dari keberanian berpikir merdeka.***
Artikel Terkait
ESAI : Pramoedya Ananta Toer mimpi Brahmana melawan tirani
Figur politik penting dalam perjalanan Indonesia, Soekarno, Sutan Syahrir, dan H Agus Salim
Soekarno, pemimpin revolusi Indonesia yang karismatik
Kabinet ‘Gemuk’ Presiden Prabowo ternyata pernah terjadi di era kepemimpinan Soekarno, ada yang sampai 132 anggota!
Prabowo kenang Titiek Puspa sebagai musisi legendaris, ternyata dulu pernah hits nyanyikan lagu ciptaan Soekarno
Kisah Titiek Puspa dan warisan musik istana: dari nama pemberian Soekarno hingga grup lensois
Menjadi manusia Indonesia dalam pandangan Pramoedya Ananta Toer