Dalam pernyataan yang sama, SMAN 1 Sambas juga membantah keras berbagai tuduhan kecurangan, termasuk isu penyuapan, nepotisme, hingga dugaan pengaturan kemenangan.
Mereka menegaskan bahwa seluruh proses yang dijalani oleh siswa telah sesuai dengan tata tertib dan aturan yang berlaku dalam perlombaan.
Selain itu, pihak sekolah juga menyayangkan sikap penyelenggara yang dinilai lamban dalam memberikan klarifikasi saat polemik mulai memanas.
Hal tersebut dinilai membuat posisi SMAN 1 Sambas semakin terpojok di tengah opini publik.
Baca Juga: Subang curi perhatian di Kirab Budaya Tatar Sunda, 'Subang Ngabret' bergema di Bandung
Gelombang kritik di media sosial bahkan disebut telah menyerang berbagai elemen sekolah, mulai dari siswa, guru, staf, hingga alumni, yang berdampak pada tekanan psikologis dan reputasi institusi.
MPR siapkan final ulang dengan juri independen
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal MPR RI, Ahmad Muzani, menyampaikan rencana untuk menggelar ulang babak final LCC 4 Pilar Kalbar sebagai bentuk evaluasi atas polemik yang terjadi.
Ia menyebutkan bahwa pelaksanaan ulang akan melibatkan juri independen dan berada di bawah pengawasan langsung MPR guna menjamin transparansi.
Baca Juga: Beda sikap MPR dan serikat guru soal permintaan maaf juri LCC usai kontroversi nilai minus 5
Menurutnya, langkah tersebut juga menjadi bagian dari pembelajaran demokrasi bagi para peserta, khususnya dalam menyampaikan aspirasi dan kritik secara terbuka.
MPR juga menyatakan akan terus melakukan evaluasi terhadap setiap kegiatan yang diselenggarakan, sekaligus membuka ruang bagi masukan dari masyarakat.
Polemik jadi sorotan nasional
Kasus ini kini menjadi sorotan luas, tak hanya di Kalimantan Barat tetapi juga secara nasional.
Baca Juga: Setelah pencarian intensif, dua wisatawan di Curug Cileat ditemukan meninggal