GENMILENIAL.ID - Direktur Madrasah Pemikiran Bung Karno, Anja Hawari Fasha mengatakan pentingnya kontekstualisme ajaran-ajaran Bung Karno dengan melihat tantangan kebangsaan ataupun spirit nasionalisme Indonesia hari ini, terutama bagi milenial dan Gen Z.
“Kontekstualisasi ajaran Bung Karno itu harus terus dilakukan, kontekstualisasi juga diterapkan, misalnya bagaimana Pancasila hari ini dimaknai sebagai ideologi yang harus fleksibel menjawab tantangan zaman,” kata Anja.
Lanjut Anja, adanya radikalisasi yang terjadi di Indonesia, terlebih menyasar kepada mereka anak-anak muda karena sudah mulai bergesernya pemahaman terkait Pancasila.
“Radikalisasi itu bukan berarti dia hanya sisi agama, tapi kenapa ada orang yang radikal? karena dia sudah tidak mempercayai bahwa Pancasila ini sakti, Pancasila ini melahirkan keadilan, kesejahteraan,” terangnya.
Baca Juga: Pilkada 2024, KPU Subang sebut sudah melakukan proses coklit hingga 75,03 persen
Lelaki yang dikenal sebagai pegiat literasi di Kabupaten Subang ini menuturkan bahwa Pancasila harus digali terus sehingga ideologi ini mampu menjawab segala problematika dan tantangan zaman.
“Misalnya tentang hak asasi manusia, yang hari ini masih menjadi problem, misalnya pembangunan Gereja yang hari ini masih menjadi sulit, inikan tidak mencerminkan norma-norma Pancasila,” paparnya.
Selain soal pembangunan tempat ibadah, kasus bullying dan kekerasan masih cukup marak terjadi, sehingga hal tersebut belum mencerminkan nilai-nilai Pancasila pada poin ke-2 yakni kemanusiaan yang adil dan beradab.
“Nah, diharapkan Pancasila ini mampu menjadi spirit, mampu menjadi solusi, menjawab problem-problem yang sedemikian rupa,” ucapnya.
Selain soal Pancasila sebagai ideologi bangsa, kebangsaan (nasionalisme), yang tak kalah penting dari nilai ajaran Sukarno yaitu soal ‘Gotong Royong’.
“Gotong royong ini, menurut kami sangat penting, karena dengan gotong royong istilah sama berat sama dipikul yang ringan sama dijinjing ini terjadi harmonisasi sosial,” ungkapnya.
Dalam konteks gontong royong pada masa revolusi Indonesia, kata Anja, Soekarno memadukan tiga unsur pemikiran dan ideologi dalam melakukan perlawananya terhadap penjajah.
“Soekarno ini kan cerdas, dia meminjam ide api Islam sebagai spirit melawan penjajahan saat itu, meminjam teori pertentangan kelas Karl Marx dan dia meramu juga nasionalisme,” jelasnya.
Artikel Terkait
Bacakan puisi Gus Mus dan Soekarno, Ketua TMP Jabar : Saya kader Nasionalis dan Banser
Figur politik penting dalam perjalanan Indonesia, Soekarno, Sutan Syahrir, dan H Agus Salim
Soekarno, pemimpin revolusi Indonesia yang karismatik
TKI asal Subang meninggal dunia di Korea Selatan, Polwan Polres Subang lakukan penjemputan jenazah ke Bandara Soekarno Hatta
Haul Bung Karno ke-54, Anja Hawari Fasya tekankan pentingnya milenial peringati hari-hari besar Bung Karno dan memahami ajaranya
Tiga peristiwa penting di bulan Bung Karno yang perlu diketahui oleh milenial dan Gen Z, termasuk ajaranya!
Pentingnya memahami etika di era digital, panduan bagi milenial dan Gen Z dalam menggunakan media sosial