GENMILENIAL.ID - Wilayah Subang selatan, selain hari ini tumbuh dengan geliat pariwisata yang diharapkan bisa meningkatkan PAD bagi Pemerintah Daerah Subang, daerah ini juga dikenal sebagai daerah agraris bagi para petani holtikultura.
Para petani holtikultura merupakan para petani yang mereka bekerja menggantungkan hidupnya dari berkebun dengan hasil produktivitas sayur dan buah-buahan.
Namun, sebagian besar para pertani holtikultura ini, mereka bukanlah para pemilik tanah yang dari hasil panen pertanian tersebut terus mereka bisa nikmati penuh bersama keluarga, istri ataupun anak-anaknya.
Disamping cost yang besar untuk biaya pertanian, terutama soal pupuk yang hari ini cukup tinggi, para petani penggarap juga harus bayar sewa lahan yang statusnya ngontrak kepada para tuan tanah.
Ketua Kelompok Tani Forum Jaya Desa Palasari, Juhaedin atau lebih akrab kang udin menyebut bahwa kehidupan para petani di Desa Palasari sebagian besar adalah para penggarap ditanah milik orang lain.
"Lahanya kebanyakan sudah diberi sama pihak luar, jadi kami disini penggarap, sementara kami, disamping harus sewa lahan, tertekan sama biaya pertanian yang semakin hari semakin tinggi," ucap Juhaedin.
Saat ini, Lanjut Juhaedin, para anggota kelompok tani di wilayahnya sangat tertekan dengan kondisi biaya pertanian, terutama soal biaya pembelian pupuk yang naik.
Juhaedin juga menyebut bahwa dulu para petani holtikultura diminta untuk menggunakan pupuk kimia, namun saat ini pihaknya diminta kembali untuk menggunakan pupuk organik.
Baca Juga: Agar tetap segar, seperti ini langkah yang tepat untuk menyimpan daging kurban dalam kulkas
Ia juga menyebut bahwa mayoritas petani di wilayah selatan adalah para petani holtikultura, mereka lebih banyak berkebun dan menanam sayur dan buah-buahan seperti petani cabe, petani tomat, petani mentimun dan lain-lain.
"Hortikultura di Subang selatan, sementara kalau ke Subang utara kan padi, kalau disini padi gak ada, kami di Horti seperti sayuran, ya perhatikanlah," ucap Juhaedin.
Lanjutnya, para petani ini menggantungkan hidup mereka dari hasil panen pertanianya, biaya pertanian yang tinggi dengan harga pupuk yang melambung termasuk biaya sewa lahan adalah kendala permasalahan yang saat ini dihadapi oleh para petani holtikultura.
Sementara itu, tokoh masyarakat yang juga purnawirawan TNI AD, Letnan Kolonel CHK (Purn) Mochamad Lukmantias Amin (Kang Lukmantias) menyebut bahwa dirinya kaget mendengar para petani penggarap holtikultura sudah tidak mempunyai lahan pertanian atau mereka melakukan sewa lahan.