news

Kabut asap pekat kembali selimuti Palembang, warga pertanyakan hasil modifikasi cuaca

Kamis, 22 Oktober 2026 | 23:40 WIB
Kondisi kabut asap pekat kembali terjadi di Palembang, Sumsel (Threads/ggcempaka)

GENMILENIAL.ID – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali dikeluhkan warga Palembang, Sumatera Selatan, pada Kamis 22 Oktober 2026.

Kondisi udara yang dilaporkan semakin buruk memicu pertanyaan warga mengenai efektivitas operasi modifikasi cuaca yang telah dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut.

Keluhan itu ramai dibagikan melalui media sosial. Sejumlah warga mengunggah kondisi jalan yang tertutup kabut asap hingga jarak pandang menurun, bahkan bangunan di sekitar jalan disebut sulit terlihat.

Baca Juga: Malaysia terganggu kabut asap karhutla RI, Menko PMK ungkap langkah pemerintah

Salah satu keluhan disampaikan akun Threads @ggcempaka yang menggambarkan kondisi pagi hari di Palembang sebagai situasi yang buruk bagi masyarakat.

“Salah satu pagi terburuk di Kota Palembang. Sampai kapan bapak-bapak para pemimpin yang terhormat paru-paru kami dipaksa jadi cerobong asap?” tulis akun @ggcempaka pada Kamis 22 Oktober 2026. 

Jarak pandang menurun, warga keluhkan kabut asap

Dalam unggahannya, akun tersebut turut membagikan video yang memperlihatkan kondisi jalan dengan jarak pandang terbatas akibat kabut asap. Sejumlah bangunan di kejauhan terlihat samar.

Baca Juga: Kantor Pemkot Palangka Raya dikepung kebakaran, BPBD ungkap sumber api sisa karhutla sebelumnya

“Lihat, enggak ada yang kelihatan. Jangankan hotel yang di ujung sana, apotek pun enggak kelihatan,” imbuhnya dalam video tersebut.

Unggahan itu juga menyertakan tangkapan layar informasi kualitas udara Palembang pada pukul 06.00 WIB. Dalam tangkapan layar tersebut, indeks AQI+ tercatat mencapai 1.115 dan masuk kategori bahaya.

Angka tersebut menjadi bagian dari keresahan warga terhadap kondisi udara yang mereka alami. Namun, informasi indeks dalam unggahan media sosial tersebut tidak disertai keterangan mengenai sumber pengukuran maupun titik pemantauannya.

Warga juga mempertanyakan hasil operasi modifikasi cuaca yang sebelumnya dilakukan untuk membantu penanganan dampak karhutla.

Baca Juga: Pakai bahasa Jawa, anggota parlemen Malaysia kirim pesan soal karhutla

Halaman:

Tags

Terkini