Baca Juga: Petaka antrean BBM di Bali: Mobil Chery hantam puluhan motor, polisi bergerak usut tuntas
Tidak terdeteksinya abu vulkanik pada pemantauan berikutnya tidak otomatis berarti seluruh material telah mengendap atau tidak lagi berada di atmosfer.
Karena itu, informasi hasil pemantauan perlu dipahami sesuai waktu dan kondisi yang tercatat.
Lima erupsi terjadi dalam rentang kurang dari satu jam
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau tercatat terjadi lima kali pada Sabtu dini hari. Erupsi berlangsung pada pukul 01.31 WIB, 01.35 WIB, 01.40 WIB, 01.47 WIB, dan 02.15 WIB.
Meskipun visual letusan tidak teramati, aktivitas tersebut terekam melalui seismograf dengan amplitudo dan durasi yang berbeda-beda.
Erupsi pada pukul 01.40 WIB tercatat memiliki amplitudo maksimum 40 milimeter dengan durasi 22 detik.
Sementara itu, erupsi pukul 01.47 WIB memiliki amplitudo maksimum 55 milimeter selama 29 detik.
Adapun erupsi pada pukul 02.15 WIB tercatat memiliki amplitudo maksimum 53 milimeter dengan durasi 28 detik.
Baca Juga: Gebrakan baru MG! MGS6 EV resmi meluncur di Indonesia, SUV listrik garang berdaya jelajah 605 km
Catatan seismograf tersebut menjadi salah satu informasi untuk memantau aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Pengamatan terus diperlukan karena aktivitas gunung masih dapat berubah.
Aktivitas gunung belum stabil, erupsi berpotensi berulang
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Suwarno membenarkan terjadinya lima erupsi tersebut.