GENMILENIAL.ID - Gunung Anak Krakatau mengalami lima kali erupsi pada Sabtu, 17 Oktober 2026, dini hari.
Aktivitas vulkanik tersebut disertai sebaran abu yang sempat terdeteksi bergerak ke arah barat, mencakup sebagian perairan Selat Sunda di wilayah Pandeglang, Banten, serta selatan Lampung.
Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9, abu vulkanik terdeteksi sekitar pukul 04.00 WIB dengan ketinggian mencapai 4.000 kaki atau sekitar 1,2 kilometer.
Baca Juga: Gagal di mobil listrik, mobil hybrid China kini diganjal eropa!
Namun, pada pemantauan berikutnya pukul 07.00 WIB, sebaran abu tersebut tidak lagi terdeteksi melalui citra satelit.
Kondisi ini menjadi bagian dari pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih berstatus Level III atau Siaga.
Masyarakat diminta mematuhi batas aman dan mewaspadai potensi bahaya yang dapat muncul seiring aktivitas vulkanik gunung tersebut.
Abu vulkanik sempat bergerak ke arah Banten dan Lampung
Forecaster On Duty BMKG Lampung Adi Saputra mengatakan, berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9, sebaran abu vulkanik pada pukul 04.00 WIB bergerak ke arah barat dari kawasan Gunung Anak Krakatau.
Baca Juga: Wayan Koster bentak pegawai SPBU, petugas dipaksa kerja non stop?
“Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9, sebaran abu vulkanik teridentifikasi ke arah barat, mencakup sebagian Selat Sunda bagian barat Pandeglang dan Selat Sunda bagian selatan Lampung,” kata Adi kepada awak media Sabtu, 17 Oktober 2026.
Pada pemantauan pukul 07.00 WIB, abu vulkanik tidak lagi terdeteksi melalui citra satelit.
Meski demikian, hasil pengamatan tersebut hanya menggambarkan kondisi yang terpantau pada waktu pemantauan dilakukan.
“Pada analisis citra Himawari-9 pukul 07.00 WIB, sebaran abu vulkanik Anak Krakatau tidak terdeteksi. Hasil ini mengacu pada kondisi yang terpantau melalui citra satelit pada waktu tersebut,” ujarnya.