Dengan optimalisasi tersebut, peningkatan kapasitas penyeberangan tidak hanya bergantung pada penambahan armada.
Frekuensi perjalanan kapal yang sudah beroperasi juga menjadi bagian penting dalam upaya mengurai antrean kendaraan.
Kapal besar dinilai belum cukup
Ali juga menyoroti opsi penambahan kapal berkapasitas besar yang telah dilakukan ASDP dengan menghadirkan kapal Portlink dan Jatra.
Menurutnya, penambahan kapal berukuran besar belum tentu efektif apabila tidak dibarengi dengan peningkatan jumlah trip.
Selain jumlah perjalanan, kapasitas kapal yang beroperasi juga perlu memperhatikan kendaraan dengan muatan 50 ton ke atas.
Baca Juga: Viral kasus aniaya balita 2 tahun oleh pengasuhnya di Palembang, kini pelaku dibekuk polisi
Kapasitas tersebut menjadi salah satu aspek yang menurut Ali perlu diperhitungkan dalam pengelolaan armada di lintasan Ketapang-Gilimanuk.
"Kehadiran kapal berukuran sangat besar berpotensi menyita alokasi waktu sandar dan ruang alur, yang justru memangkas frekuensi trip kapal-kapal kecil dan sedang yang selama ini beroperasi di alur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk," tambah mantan Kepala Seksi Perhubungan Laut dan Udara Dinas Perhubungan Kabupaten Banyuwangi tersebut.
Artinya, menurut Ali, penambahan kapal besar perlu ditempatkan dalam strategi operasional yang mempertimbangkan seluruh armada dan kapasitas alur penyeberangan.
Baca Juga: Viral rumah ASN di Cileunyi Bandung digerebek, polisi temukan puluhan tanaman pohon ganja
Revitalisasi dermaga dinilai memicu bottleneck
Persoalan antrean juga dikaitkan Ali dengan pengerjaan infrastruktur di kawasan pelabuhan.
Ia mengkritik pelaksanaan revitalisasi dermaga yang dilakukan bersamaan dengan proyek pembangunan dermaga baru.