Menurutnya, kondisi anak yang masih lemah membuat Agnesia menjadi takut ketika berada di tengah keramaian. Padahal, sebelumnya anaknya merupakan salah satu siswa berprestasi di SMAN 1 Berastagi.
Baca Juga: Dedi Mulyadi dorong olahraga rakyat, Kalimalang bakal dihidupkan lewat lomba dayung
“Anak saya itu salah satu yang berprestasi di SMAN 1 Berastagi, sekarang Pak, kondisinya melihat keramaian pun dia takut,” ujarnya.
Fitriani kemudian mempertanyakan bentuk pertanggungjawaban pihak SPPG terhadap kondisi anak-anak yang diduga menjadi korban.
“Terutama pihak SPPG, sampai mana pertanggungjawaban Bapak? Apakah kata maaf dan klarifikasi itu cukup? Tidak, itu tidak cukup. Dari tes urin, hasil anak saya positif ada bakteri,” imbuhnya.
Keluhkan biaya obat untuk anaknya
Dalam RDP tersebut, Fitriani juga menyinggung biaya serta pengobatan yang diberikan kepada anak-anak yang diduga menjadi korban keracunan.
Baca Juga: Geger temuan mayat bayi yang dikubur di kebun warga, polisi tangkap remaja belasan tahun di Semarang
Ia menyebut harga obat yang dikonsumsi anak-anak berada pada kisaran Rp18.000 hingga Rp50.000.
“Harga obat yang dikonsumsi anak-anak kami Rp18.000, Rp20.000, yang paling mahal Rp50.000. Seyogyanya, kalau memang pemerintah bahkan negara bertanggung jawab pengobatan ini, kenapa obat seperti itu?” tuntutnya.
Fitriani mempertanyakan apakah obat yang diberikan dapat mengatasi dampak yang dialami anak-anak tersebut dalam jangka panjang.
“Apakah antinyeri bisa menyembuhkan untuk selamanya? Tidak pak,” sambungnya.
Selain persoalan biaya pengobatan, Fitriani juga menyayangkan sikap pihak SPPG Karo Berastagi Sempajaya yang disebut tidak memastikan kondisi anaknya setelah kejadian tersebut.
“Pihak SPPG sekalipun tidak pernah menanyakan kondisi anak-anak kami,” tuturnya.