Reza juga meminta sekolah tidak menerapkan aturan kedatangan siswa secara kaku selama kondisi karhutla.
Ia menyoroti kemungkinan siswa datang terlambat karena kondisi tertentu.
“Jangan sampai pintu gerbang sekolah ditutup begitu saja ketika siswa terlambat, mengingat mereka sudah jauh-jauh ke sekolahan,” terang Reza.
Baca Juga: 18 Hari, Polres Subang bongkar 11 kasus narkoba: 14 Tersangka dan ratusan gram sabu diamankan
Menurutnya, kondisi karhutla membutuhkan penyesuaian dalam penerapan aturan sekolah. Teknis pelaksanaannya diminta disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.
Hal serupa juga disampaikan terkait kepulangan siswa. Apabila kondisi mengharuskan siswa pulang lebih cepat dari jadwal normal, Reza meminta agar kepulangan dilakukan secara bersama-sama.
“Jika keadaan memang mengharuskan siswa pulang sebelum waktunya, pastikan mereka dipulangkan bersama-sama dengan siswa lain berdasarkan kesepakatan bersama,” tandasnya.
Pernyataan Kadisdik Kalteng tuai sorotan
Pernyataan Muhammad Reza tersebut menjadi perhatian setelah potongan video rapat koordinasi pembelajaran selama masa karhutla beredar di media sosial.
Sorotan terutama muncul pada bagian ketika Reza mengaitkan peliburan sekolah dengan operasional dapur MBG, aktivitas kantin serta kekhawatiran terhadap kegiatan siswa di luar sekolah.
Di sisi lain, dalam pembahasan tersebut Reza juga menyampaikan sejumlah penyesuaian kegiatan belajar mengajar, termasuk perubahan jam masuk menjadi pukul 08.00 dan durasi setiap jam pelajaran menjadi 30 menit.
Terkait jabatan, Muhammad Reza sebelumnya menjalankan tugas sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kalteng sebelum kemudian ditetapkan sebagai kepala dinas definitif.
Hingga kini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak terkait mengenai polemik pernyataan Kadisdik Kalteng yang beredar di media sosial tersebut.***