“Dengan menyatukan berbagai potensi yang ada, kita dapat membangun ekosistem keilmuan kepolisian yang lebih kuat, adaptif, dan mampu menjawab tantangan masa depan,” lanjutnya.
Ia menambahkan, kunjungan ini merupakan langkah awal dalam membangun kesepahaman serta menjembatani proses pembentukan APTKI bersama berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Dapat apresiasi dari UI
Direktur Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan UI, Prof. Dr. Supriatna, menyampaikan apresiasi atas inisiatif pembentukan APTKI.
Ia menilai asosiasi tersebut memiliki potensi besar untuk menjadi pusat kolaborasi intelektual.
Menurutnya, APTKI tidak hanya berfungsi sebagai organisasi administratif, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi yang mampu memperkuat jejaring akademik nasional dan internasional.
Supriatna menekankan pentingnya pengembangan kurikulum bersama, penelitian kolaboratif lintas kampus, peningkatan publikasi ilmiah, serta pertukaran pengetahuan yang berkelanjutan.
Selain itu, APTKI juga diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis riset guna mendukung pengembangan kepolisian dan sistem keamanan nasional.
Perkuat posisi ilmu kepolisian
Senada dengan hal tersebut, Ketua Program Doktor Ilmu Kepolisian STIK-PTIK Polri, Komisaris Besar Polisi Dr. Benny Saragih, menilai pembentukan APTKI akan memperkuat posisi ilmu kepolisian sebagai disiplin strategis di era modern.
Ia menegaskan bahwa kepolisian masa depan tidak hanya bergantung pada reformasi kelembagaan dan peningkatan kapasitas operasional, tetapi juga membutuhkan fondasi keilmuan yang kuat melalui riset, inovasi, dan kolaborasi akademik.
Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam menyatukan visi antara DIKPI, UI, dan STIK-PTIK Polri dalam membangun ekosistem keilmuan kepolisian yang lebih solid.
Ke depan, pembentukan APTKI diharapkan mampu melahirkan kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi, organisasi profesi, dan institusi kepolisian dalam menghasilkan inovasi serta kebijakan yang mendukung transformasi kepolisian Indonesia menjadi lebih profesional, adaptif, dan berbasis ilmu pengetahuan.***