Sejumlah pihak mempertanyakan relevansi pelatihan militer bagi calon manajer yang sejatinya akan mengelola keuangan dan administrasi koperasi.
Baca Juga: Sayembara berakhir usai penangkapan Taufik Hidayat, uang Rp250 juta akan diberikan untuk korban YTR
Bahkan, muncul isu adanya peserta yang memilih mundur setelah dinyatakan lolos seleksi.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, sebelumnya menjelaskan bahwa Latsarmil bertujuan untuk membentuk kedisiplinan, kekompakan, serta mental para peserta.
“Perlu penebalan rasa cinta terhadap bangsa dan negara, juga pembentukan semangat dan kekompakan,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan bekerja di desa, khususnya di wilayah terpencil, membutuhkan kesiapan mental dan solidaritas yang kuat antar peserta.
Pakar nilai tidak relevan
Namun demikian, pandangan berbeda disampaikan oleh Pakar Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), Agustinus Subarsono. Ia menilai desain pelatihan tersebut tidak tepat sasaran.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa desain pelatihan tidak dipikirkan secara matang,” ujarnya.
Agustinus menegaskan bahwa pelatihan bagi calon manajer seharusnya berfokus pada kemampuan manajerial, bukan pelatihan militeristik seperti baris-berbaris atau penggunaan senjata.
“Semua itu berbeda, bahkan jauh berbeda dari tugas manajer koperasi,” jelasnya.
Ia pun menyarankan agar pendekatan pelatihan diubah menjadi berbasis kepemimpinan sipil yang lebih relevan dengan kebutuhan pengelolaan koperasi.
Peristiwa ini kini memicu desakan dari berbagai pihak agar program Latsarmil bagi calon manajer Kopdes-KNMP dihentikan sementara dan dievaluasi secara menyeluruh, demi mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.***