Rifki mengaku kecewa karena perusahaan dinilai tidak menunjukkan tanggung jawab langsung.
Menurut pengakuannya, ia justru diarahkan untuk menyelesaikan persoalan ganti rugi secara pribadi dengan sopir yang mengemudikan kendaraan saat kejadian.
“Masa dari pihak perusahaan mintanya beresin sama sopir buat ganti secara kekeluargaan. Enggak ada tanggung jawabnya sama sekali dari pihak perusahaan?” keluh Rifki.
Baca Juga: Perkuat solidaritas, DPRD Subang salurkan hewan kurban untuk warga sekitar
Beban ganti rugi dibebankan ke sopir
Rifki juga menilai solusi tersebut tidak masuk akal, mengingat sopir hanya pekerja yang memiliki keterbatasan secara finansial.
Ia mempertanyakan kebijakan perusahaan yang dianggap melepaskan tanggung jawab kepada individu.
“Orang kecil yang disuruh tanggung jawab gimana ceritanya mau ganti pakai apa, dipikir lah pakai otak!” tegasnya.
Pernyataan tersebut langsung menuai berbagai reaksi dari warganet yang ikut mempertanyakan standar tanggung jawab perusahaan transportasi terhadap armadanya.
Baca Juga: Viral dugaan narkoba anak Bupati Riau, BNN sebut positif ganja dari paparan asap
Belum ada klarifikasi resmi
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak manajemen Taksi Green SM terkait insiden tersebut.
Otoritas berwenang juga belum memberikan keterangan lebih lanjut mengenai kronologi lengkap maupun proses penanganan kasus ini.
Sementara itu, kasus ini terus menjadi perbincangan hangat di media sosial dan memicu diskusi mengenai tanggung jawab perusahaan terhadap kecelakaan yang melibatkan armadanya.***