Anak-anak menjadi kelompok paling rentan, kehilangan bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga rasa aman dan kenyamanan yang selama ini mereka kenal.
Kisah dua bocah Desa Sipange ini menjadi pengingat bahwa di balik data kerusakan dan angka kerugian, ada luka emosional anak-anak yang membutuhkan perhatian serius dalam proses pemulihan pascabencana.***