Bicara soal leadership, Kang Lukmantias sebut sebelas asas kepemimpinan, seperti ini penjelasanya

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Jumat, 4 Agustus 2023 | 21:26 WIB
Kang Lukmantias muda, saat berdinas di TNI AD dan masih menjabat sebagai Mayor
Kang Lukmantias muda, saat berdinas di TNI AD dan masih menjabat sebagai Mayor

GENMILENIAL.ID - Putra daerah dan juga tokoh masyarakat Kabupaten Subang, Letnan Kolonel CHK (Purn) Mochamad Lukmantias Amin (Kang Lukmantias) berbicara terkait kepemimpinan dan leadership.

Ia pun menyebut bahwa kepemimpinan merupakan sebuah seni, karena seorang pemimpin harus mempunyai keluwesan, bersikap adaptif, bisa berkolaborasi namun juga tetap memiliki sikap ketegasan.

Lelaki yang purnabakti di TNI AD pada usia 43 tahun dan saat ini masih bekerja di salah satu perusahaan BUMN di Jakarta ini digadang-gadang sebagai salah satu kandidat potensial dari jalur independen yang akan maju di Pilkada 2024.

Meski dari jalur independen, Kang Lukmantias tetap melakukan sejumlah komunikasi politik untuk mencari satu frekuensi yang sama dengan partai-partai politik yang saat ini masih terkonsentrasi pada pemenangan pemilu legislatif tahun 2024 kelak.

Baca Juga: Subang, putra daerah dan seni kepemimpinan seorang prajurit

Terkait kepemimpinan, Kang Lukmantias juga menyebut bahwa yang menjadi acuanya adalah apa yang telah menjadi nilai-nilai kepemimpinan yang ia pelajari selama berdinas di militer TNI AD.

Adapun kesebelas asas kepemimpinan tersebut yaitu, yang pertama adalah takwa, kemudian Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, waspada purbawisesa, ambek parama arta, prasaja, satya, belaka, legawa dan gemi nastiti.

Yang pertama takwa, beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan taat kepada-Nya. Yang dua, ing ngarsa sung tulada, memberi suri tauladan di hadapan bawahan. Ketiga, ing madya mangun karsa, ikut bergiat serta menggugah semangat di tengah-tengah bawahan.

Keempat, tut wuri handayani, mempengaruhi dan memberi dorongan dari belakang kepada bawahan. Kelima waspada purba wisesa, selalu waspada mengawasi, serta sanggup dan memberi koreksi kepada bawahan.

Baca Juga: Brunei Darussalam, jejak sejarah dan kejayaan kerajaan

Keenam, ambeg parama arta, dapat memilih dengan tepat mana yang harus didahulukan. Ketujuh, prasaja, tingkah laku yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Kedelapan, satya, sikap loyal yang timbal balik, dari atasan terhadap bawahan dan dari bawahan terhadap atasan dan ke samping.

Kesembilan, gemi nastiti, kesadaran dan kemampuan untuk membatasi penggunaan dan pengeluaran segala sesuatu kepada yang benar-benar diperlukan. Kesepuluh, belaka, kemauan, kerelaan dan keberanian untuk mempertanggungjawabkan tindakan-tindakannya.

Dan kesebelas yaitu, legawa, kemauan, kerelaan dan keikhlasan untuk pada saatnya menyerahkan tanggung jawab dan kedudukan kepada generasi berikutnya.

"Itu digali dari nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia, jadi bukan berarti kemudian itu milik daripada TNI sendiri, justru TNI bagian dari masyarakat," ujarnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X