GENMILENIAL.ID - Puluhan mahasiswa dan komunitas di Kabupaten Subang menggelar aksi turun ke jalan untuk mengkampanyekan stop kekerasan dan diskriminasi terhadap kaum perempuan pada Minggu 17 Maret 2024 sore.
Aksi yang dilakukan jelang buka puasa ini juga dilakukan dalam rangka memperingati International Women's Day 2024 atau Hari Perempuan Internasional yang setiap tahun selalu diperingati pada 8 Maret 2024.
Aksi ini juga merupakan bentuk keprihatinan dari para aktivis perempuan, pemerhati anak, jurnalis dan juga para mahasiswa dari berbagai komunitas milenial dan zilenial yang ada di Kabupaten Subang atas meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap perempuan di Kabupaten Subang.
Aksi kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan hari ini telah menjadi isu bersama sebagai perwujudan dari kerja-kerja kolektif agar mereka yang telah menjadi korban berani bersuara dan tidak takut terhadap intimidasi dan pembungkaman.
Baca Juga: Satgas Pangan Polri sebut jamin ketersediaan bahan pokok selama bulan Ramadhan hingga Idul Fitri
Dalam orasinya pada mimbar bebas di Alun-alun Subang, Jurnalis dan aktivis perempuan, Tiara Maulida mengatakan bahwa di Kabupaten Subang dalam tiga bulan terakhir ada 30 kasus kekerasan seksual yang menimpa perempuan.
"Sangat-sangat memprihatinkan, siapa tau dengan kita turun ke jalan ini, kita menyuarakan dan menjadi kesadaran kolektif untuk kita bersama agar kita bisa menggugah para korban ataupun orang-orang yang tidak mendapatkan keadilan," kata Tiara.
Lanjut Tiara, selama ini para korban kekerasan seksual yang menimpa perempuan di Kabupaten Subang cenderung lebih banyak diam dan tidak berani, cenderung takut untuk bicara.
"Besok-besok kalau ada yang perlu bantu kita bantu, bersama-sama di garda terdepanya mereka untuk kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak, selama ini perempuan dibungkam, selama ini perempuan tidak boleh bicara, hari ini kita bebas bicara," tegasnya.
Baca Juga: 5 Manfaat menulis bagi kesehatan jiwa, salah satunya dapat redakan stres dan kecemasan
Senada dengan Tiara, koordinator aksi dan juga aktivis perempuan dari Komunitas Obrolan Gender, Fitriyatun Nisa menuturkan bahwa meningkatnya puluhan kasus kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Subang merupakan bentuk bahwa Kabupaten Subang belum ramah terhadap perempuan dan anak.
"Ini suara kami, obrolan gender bersama lintas komunitas dan organisasi bersama-sama menyuarakan harus terciptanya ruang aman bagi perempuan dan anak di Kabupaten Subang," tandasnya.
Fitri juga menuturkan bahwa selama ini pihaknya sudah mencoba melakukan pendampingan terhadap para korban kekerasan seksual diberbagai lembaga, termasuk lembaga pendidikan, namun selalu berakhir dengan pembungkaman.
Artikel Terkait
Profil dan perjuangan RA Kartini dalam memperjuangkan pendidikan bagi perempuan Jawa
Ajukan 40 persen Bacaleg perempuan, Ketua DPC PPP Subang tak ingin muluk-muluk soal target, ini penjelasanya
Pindah jadi Wakapolres Metro Bekasi, Niko Rinaldo sebut AKBP Sumarni figur pemimpin perempuan yang responsif
Ulang Tahun ke 23, Ketua IAD Subang sebut perempuan harus miliki kompetensi kuat dan disiplin
Pulo Lasman Simanjuntak berikan tanda tangan simbolik pada buku antologi puisi penyair perempuan Indonesia
8 Maret, memperingati kepahlawanan, perjuangan dan prestasi perempuan pada Hari Perempuan Internasional
Refleksikan kegelisahan perempuan, Mahasiswa GMNI gelar aksi pembagian mawar, teaterikal dan musikalisasi puisi