Maraknya kasus kekerasan seksual terhadap perempuan di Subang, puluhan aktivis dan mahasiswa turun ke jalan

photo author
Yaya Suryana, Genmilenial
- Minggu, 17 Maret 2024 | 20:41 WIB
Para aktivis perempuan dan mahasiswa ajak korban kekerasan seksual untuk berani bersuara, Minggu 17 Maret 2024
Para aktivis perempuan dan mahasiswa ajak korban kekerasan seksual untuk berani bersuara, Minggu 17 Maret 2024

GENMILENIAL.ID - Puluhan mahasiswa dan komunitas di Kabupaten Subang menggelar aksi turun ke jalan untuk mengkampanyekan stop kekerasan dan diskriminasi terhadap kaum perempuan pada Minggu 17 Maret 2024 sore.

Aksi yang dilakukan jelang buka puasa ini juga dilakukan dalam rangka memperingati International Women's Day 2024 atau Hari Perempuan Internasional yang setiap tahun selalu diperingati pada 8 Maret 2024.

Aksi ini juga merupakan bentuk keprihatinan dari para aktivis perempuan, pemerhati anak, jurnalis dan juga para mahasiswa dari berbagai komunitas milenial dan zilenial yang ada di Kabupaten Subang atas meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap perempuan di Kabupaten Subang.

Aksi kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan hari ini telah menjadi isu bersama sebagai perwujudan dari kerja-kerja kolektif agar mereka yang telah menjadi korban berani bersuara dan tidak takut terhadap intimidasi dan pembungkaman.

Baca Juga: Satgas Pangan Polri sebut jamin ketersediaan bahan pokok selama bulan Ramadhan hingga Idul Fitri

Dalam orasinya pada mimbar bebas di Alun-alun Subang, Jurnalis dan aktivis perempuan, Tiara Maulida mengatakan bahwa di Kabupaten Subang dalam tiga bulan terakhir ada 30 kasus kekerasan seksual yang menimpa perempuan.

"Sangat-sangat memprihatinkan, siapa tau dengan kita turun ke jalan ini, kita menyuarakan dan menjadi kesadaran kolektif untuk kita bersama agar kita bisa menggugah para korban ataupun orang-orang yang tidak mendapatkan keadilan," kata Tiara.

Puluhan mahasiswa berikan tanda stempel tangan mereka sebagai dukungan penuh terhadap korban kekerasan seksual
Puluhan mahasiswa berikan tanda stempel tangan mereka sebagai dukungan penuh terhadap korban kekerasan seksual

Lanjut Tiara, selama ini para korban kekerasan seksual yang menimpa perempuan di Kabupaten Subang cenderung lebih banyak diam dan tidak berani, cenderung takut untuk bicara.

"Besok-besok kalau ada yang perlu bantu kita bantu, bersama-sama di garda terdepanya mereka untuk kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak, selama ini perempuan dibungkam, selama ini perempuan tidak boleh bicara, hari ini kita bebas bicara," tegasnya.

Baca Juga: 5 Manfaat menulis bagi kesehatan jiwa, salah satunya dapat redakan stres dan kecemasan

Senada dengan Tiara, koordinator aksi dan juga aktivis perempuan dari Komunitas Obrolan Gender, Fitriyatun Nisa menuturkan bahwa meningkatnya puluhan kasus kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Subang merupakan bentuk bahwa Kabupaten Subang belum ramah terhadap perempuan dan anak.

"Ini suara kami, obrolan gender bersama lintas komunitas dan organisasi bersama-sama menyuarakan harus terciptanya ruang aman bagi perempuan dan anak di Kabupaten Subang," tandasnya.

Fitri juga menuturkan bahwa selama ini pihaknya sudah mencoba melakukan pendampingan terhadap para korban kekerasan seksual diberbagai lembaga, termasuk lembaga pendidikan, namun selalu berakhir dengan pembungkaman.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Yaya Suryana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X