Irfan juga menyoroti tekanan besar yang dirasakan masyarakat akibat kondisi lapangan kerja saat ini.
Meski secara makro pertumbuhan ekonomi kerap disebut meningkat, realitas di lapangan tidak selalu sejalan.
“Kita kerja susah. Orang bilang angka ekonomi naik, tapi realitanya kanan-kiri orang dipecatin,” ujarnya.
Ia menambahkan, sektor informal memang menjadi penopang bagi banyak masyarakat, namun sektor tersebut juga memiliki keterbatasan.
“Sektor informal kita paling banyak. Okelah sektor informal itu membantu, tapi kan nggak ada penggeraknya,” tuturnya.
Baca Juga: Warga Aceh Timur terpaksa sewa beko Rp600 ribu per jam untuk bersihkan lumpur sisa banjir bandang
Data bank dunia soal lapangan kerja
Kondisi tersebut sejalan dengan laporan World Bank East Asia and The Pacific Economic Update October 2025.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa kawasan Asia Timur dan Pasifik mengalami kesulitan serius dalam penciptaan lapangan kerja.
Secara spesifik, laporan tersebut menyebutkan bahwa 1 dari 7 pemuda di Indonesia dan China merupakan pengangguran yang kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Selain itu, sebagian besar tenaga kerja di kawasan Asia Timur dan Pasifik masih bergantung pada sektor informal.
Sementara itu, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat tantangan yang tak kalah besar.
Kepala Pusat Pasar Kerja Kemenaker, Surya Lukita Warman, pada September 2025 lalu mengungkapkan bahwa setiap tahun terdapat sekitar 10,7 juta orang di Indonesia yang membutuhkan pekerjaan.