Dalam tradisi aslinya, 12 anggur dimakan satu per satu mengikuti dentang jam tepat saat pergantian tahun. Setiap dentangan mewakili satu bulan, sehingga seluruh anggur harus dihabiskan dalam waktu satu menit.
Konon, mereka yang berhasil menghabiskan seluruh anggur tepat waktu akan memperoleh keberuntungan, kesuksesan, dan percintaan yang indah sepanjang tahun.
Sebaliknya, jika gagal, dipercaya setahun ke depan tidak akan berjalan semulus harapan.
Namun, aturan ini kerap menuai perhatian karena berisiko menyebabkan tersedak. Oleh karena itu, banyak orang kini menyarankan untuk mengabaikan batasan waktu dan lebih fokus pada makna simbolis serta doa di balik setiap buah anggur yang dimakan.
Dari tradisi lokal hingga fenomena global
Mengutip NPR, tradisi makan 12 anggur bermula di Madrid, Spanyol, sekitar tahun 1880.
Baca Juga: Kurang dari 24 jam, Polres Subang bongkar pengeroyokan maut di jalan raya, 5 orang jadi tersangka
Saat itu, masyarakat setempat mengonsumsi anggur dan sampanye di malam Tahun Baru untuk memanfaatkan surplus hasil panen anggur.
Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang dan menyebar ke berbagai negara di Amerika Latin, lalu menjelma menjadi ritual populer setiap malam pergantian tahun.
Di era digital, kebiasaan ini kembali viral setelah banyak kreator membagikan pengalamannya di media sosial.
Kini, makan 12 anggur di bawah meja tak hanya dimaknai sebagai ritual keberuntungan, tetapi juga menjadi bagian dari perayaan Tahun Baru yang seru, penuh harapan, dan sarat makna simbolik.***