Selain itu, pertumbuhan nasabah baru juga melonjak hingga 73 persen YoY, memperlihatkan daya tarik DBS Treasures di segmen wealth management yang semakin kompetitif.
Hadapi volatilitas, DBS dorong diversifikasi investasi
Head of Investment & Insurance Product PT Bank DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, menyebut bahwa kondisi pasar global masih dibayangi ketidakpastian, mulai dari kebijakan perdagangan hingga inflasi tinggi di Amerika Serikat.
Namun, di tengah tekanan tersebut, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan 5,61 persen YoY pada kuartal I 2026.
“Volatilitas diperkirakan tetap tinggi, namun peluang strategis masih terbuka bagi investor berorientasi jangka panjang,” jelasnya.
Salah satu strategi utama yang diusung adalah diversifikasi investasi dengan mempertahankan posisi overweight pada emas sebagai instrumen defensif.
Permintaan emas global tercatat meningkat 74 persen YoY pada kuartal I 2026, sementara di Indonesia naik 47 persen.
Inovasi produk dan akses global jadi kunci
DBS juga memperkuat portofolio investasi dengan menghadirkan 16 produk baru yang telah dikurasi.
Selain itu, bank ini menjadi yang pertama menyediakan akses ke pasar emas global melalui Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) dengan minimum investasi Rp5 miliar.
Baca Juga: Penangkapan Roy Suryo dan dokter Tifa: Pengacara singgung ada intervensi politik dalam hukum
Di sisi lain, integrasi teknologi memungkinkan nasabah menerima insight investasi melalui WhatsApp dan email, yang kemudian dapat didiskusikan dengan Relationship Manager dan langsung ditindaklanjuti melalui aplikasi digibank.
Dengan jaringan kuat di enam pasar utama Asia seperti Indonesia, Singapura, Hong Kong, Taiwan, Tiongkok, dan India, DBS mampu menghadirkan perspektif investasi yang luas dan relevan.
Raih penghargaan internasional