Dampak ekonomi program mulai terasa langsung. Pendapatan kelompok tani meningkat hingga 65 persen, sementara biaya pupuk turun sekitar 50 persen.
Pada periode budidaya cabai 2024–2025, kegiatan usaha mencatatkan keuntungan Rp246.258.000.
Baca Juga: Pengamen biola di Menteng bikin pengendara merinding, aksinya disebut layaknya pemain orkestra
Evaluasi berbasis Social Return on Investment (SROI) menunjukkan nilai 4,34. Artinya, setiap satu rupiah investasi mampu menghasilkan manfaat sosial lebih dari empat rupiah.
Transformasi juga terjadi dalam struktur sosial ekonomi desa.
Petani yang sebelumnya bekerja secara individual dan bergantung pada tengkulak kini tergabung dalam empat kelompok tani resmi melalui Surat Keputusan Desa.
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) berperan sebagai simpul pasar yang memperkuat akses distribusi dan posisi tawar petani.
Inovasi lokal pun berkembang, termasuk pemanfaatan keong yang sebelumnya menjadi hama sebagai bahan baku pupuk organik cair.
Program ini menjangkau 869 penerima manfaat langsung dan 9.874 penerima manfaat tidak langsung.
Sebanyak 68 individu dari kelompok rentan, mulai dari buruh tani, lansia, keluarga pra-sejahtera, hingga mantan pelaku pertambangan tanpa izin, dilibatkan secara aktif dalam sistem ekonomi desa.
Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap program mencapai 90,82 persen.
Keberhasilan program juga tidak terlepas dari peran penggerak lokal, Kang Wahyu, yang mendorong adopsi inovasi pertanian dan kolaborasi komunitas.
Rumah Belajar Garitan yang dibangun di desa kini berkembang menjadi pusat pembelajaran dan telah dikunjungi lebih dari 696 pengunjung lokal maupun nasional.