karir-bisnis

Industri asuransi tertekan, cuaca ekstrem gerus keuntungan dan ungkap kesenjangan proteksi

Minggu, 18 Mei 2025 | 00:01 WIB
Foto Ilustrasi - Industri asuransi Asia mengalami disrupsi akibat kerugian ekonomi di 2024 (Pixabay/Oleg Gamulinski)

GENMILENIAL.ID - Industri asuransi global mengalami tekanan berat sepanjang 2024 akibat cuaca ekstrem yang semakin tak terkendali.

Laporan terbaru WTW mencatat total kerugian ekonomi akibat bencana cuaca mencapai lebih dari US$20 miliar atau sekitar Rp328 triliun.

Namun, hanya sekitar US$2 hingga US$3 miliar kerugian yang berhasil diklaim melalui polis asuransi, mencerminkan minimnya perlindungan keuangan di banyak wilayah terdampak.

Baca Juga: Kronologi pembunuhan content creator cantik asal Meksiko, ditembak saat live TikTok sambil memeluk boneka

Dilansir Insurance Asia, Kamis, 15 Mei 2025, musim topan 2024 di Pasifik Utara mencatat 23 badai tropis. Sebanyak 15 badai meningkat menjadi topan dan 9 di antaranya berintensitas tinggi.

Meskipun jumlahnya sedikit lebih rendah dari rata-rata tahunan, dampak ekonomi dan kerusakan fisik yang ditimbulkan justru lebih besar karena intensitas badai yang tinggi dan lokasi pendaratan yang padat penduduk.

Topan Yagi menjadi bencana paling merusak dengan korban jiwa mencapai 1.200 orang dan kerugian ekonomi hingga US$15 miliar. Ironisnya, hanya sekitar US$1 miliar dari kerugian tersebut yang diasuransikan.

Wilayah China Selatan dan Vietnam disebut sebagai wilayah dengan penetrasi asuransi yang rendah, meski menjadi jalur utama badai.

Baca Juga: Banding ditolak Pengadilan Tinggi! formasi Cella, Tantri, dan Chua diakui sah sebagai band Kotak

Situasi serupa terjadi di Jepang melalui Topan Shanshan, serta di Filipina yang dihantam enam badai dalam 30 hari.

Di Filipina, lebih dari 13 juta penduduk terdampak dengan total kerugian mencapai US$500 juta, namun sebagian besar masyarakat tidak memiliki perlindungan asuransi yang memadai.

Laporan tersebut menyoroti jurang besar perlindungan asuransi di Asia yang semakin menganga di tengah eskalasi krisis iklim.

Industri asuransi global dinilai perlu memperluas jangkauan proteksi, meningkatkan literasi publik, dan mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ketahanan keuangan menghadapi bencana.

Baca Juga: Dua WNI dari Jawa Barat ditangkap kepolisian Arab Saudi, diduga terlibat praktik haji ilegal

Halaman:

Tags

Terkini