GENMILENIAL.ID - Politisi dan Mantan Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Subang, Niko Rinaldo membuat geger kandang banteng, khususnya untuk para kader senior PDI Perjuangan Subang.
Setelah memberikan dukungan politik kepada mantan Bupati Subang, H. Ruhimat, Ia dan ribuan pendukunganya secara massal mendatangi kantor DPC PDI Perjuangan Subang untuk pamit dan menyerahkan KTA partai.
Mantan caleg DPRD Provinsi Jawa Barat untuk Dapil Subang, Majalengka dan Sumedang itu ternyata tidak betah berlama-lama pasca ditinggal oleh mentor politiknya Maruarar Sirait yang telah lebih dahulu meninggalkan partai berlambang banteng tersebut.
Keputusan Maruarar Sirait yang lebih dahulu hengkang dari PDI Perjuangan, tidak serta merta saat itu membuat Niko Rinaldo untuk mengikuti jejak langkah mentor dan guru politiknya tersebut.
Bahkan ia sempat mengatakan akan berbeda haluan dan pandangan politik dengan Maruarar Sirait, sampai disini kandang banteng Subang masih cukup solid hingga memperoleh 9 kursi DPRD sebagai pemenang pemilu ke 2 setelah Golkar di Subang.
Pada pemilu legislatif 2024 lalu, sebagai kader muda, Niko Rinaldo cukup memiliki suara yang cukup siginifikan, dengan total perolehan suara sebanyak 39.398 suara di tiga wilayah dapilnya, jika dibandingkan dengan beberapa kader lainya, termasuk kader senior.
Untuk Kabupaten Subang sendiri, Niko Rinaldo sudah mengantongi 21.187 suara, ini adalah fakta ril bahwa lelaki kelahiran Pantura tersebut cukup bekerja keras untuk memenangkan dan mendulang suara partai.
Walaupun pada akhirnya putra daerah kelahiran Subang ini harus menerima kenyataan pahit yang menyesakan dengan selisih dua suara, yang menurutnya diduga ada kecurangan yang cukup masif yang membuatnya gagal melanggeng ke kursi DPRD Provinsi Jawa Barat.
Pasca ditinggal Maruarar Sirait, Niko Rinaldo seperti tidak punya pegangan tangan yang menjadi sandaranya dalam politik, terutama di rumah yang sudah belasan tahun menerpa dirinya menjadi seorang kader.
Riak-riak pilkada Subang, naluri politisi dan perhitungan politiknya membuat Niko Rinaldo harus memilih kenyataan dari hal yang paling sulit sekalipun, dengan meninggalkan rumah besarnya dan mengikuti jejak Maruarar Sirait dan H. Ruhimat.