Quraish Shihab kenang Ibrahim Sjarief: Hati memang sedih, air mata berlinang

photo author
Mustafa Kamal, Genmilenial
- Rabu, 21 Mei 2025 | 19:24 WIB
Almarhum Ibrahim Sjarief (kiri) dan penceramah Indonesia, Quraish Shihab (Instagram.com/@ahp.id - @quraish.shihab)
Almarhum Ibrahim Sjarief (kiri) dan penceramah Indonesia, Quraish Shihab (Instagram.com/@ahp.id - @quraish.shihab)

GENMILENIAL.ID - Suasana duka masih menyelimuti keluarga besar Najwa Shihab atas wafatnya sang suami, Ibrahim Sjarief bin Husein Ibrahim Assegaf, yang telah dimakamkan di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Rabu, 21 Mei 2025, sekitar pukul 10.30 WIB.

Sejumlah tokoh nasional hadir dalam prosesi pemakaman untuk memberikan doa dan dukungan, di antaranya mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan serta politikus Partai Gerindra, Ahmad Riza Patria.

Penceramah sekaligus ayah Najwa Shihab, Prof. Quraish Shihab, menyampaikan bahwa meski keluarga tengah bersedih, mereka tetap tegar dan ikhlas menerima ketentuan Tuhan.

Baca Juga: Quraish Shihab kenang Ibrahim Sjarief sebagai orang baik: Ketika dimakamkan turun hujan

"Keluarga tetap stabil, baik, pasrah, legowo. Semua apa yang ditentukan Tuhan, itulah yang terbaik," ujar Quraish Shihab usai prosesi pemakaman.

"Hati memang sedih, air mata berlinang, tetapi kita tidak berucap kecuali apa yang dikehendaki oleh Tuhan," tambahnya.

Quraish juga bersaksi atas kebaikan menantunya semasa hidup, yang tercermin dari banyaknya orang yang hadir untuk mendoakan.

"Kalau dia bukan orang baik, tidak sebanyak ini orang yang datang berkunjung, mendoakan," tuturnya.

Baca Juga: 6 Pelaku grup 'Fantasi Sedarah' di Facebook ditangkap, berasal dari Jawa dan Sumatera

Ia pun mengingatkan pentingnya ucapan belasungkawa yang diajarkan dalam Islam.

"Ucapan belasungkawa yang paling diajarkan agama itu 'Innalillahi wa inna ilaihi rojiun'. Dia memang milik Allah, wajar kalau dipanggil, dan kita semua akan kembali kepada-Nya," ucap Quraish.

Meski tak mudah menerima kepergian orang terkasih, Quraish menekankan bahwa kesadaran untuk kembali kepada Tuhan adalah kunci ketegaran.

"Tentu semua orang, pada awalnya tidak akan siap untuk kehilangan, tapi sadar akan menyadari bahwa itu milik Tuhan. Ketika dia dipanggil, ya memang semestinya dipanggil," pungkasnya.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mustafa Kamal

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X