“Reels Instagram bisa diunggah ke TikTok dengan sedikit penyesuaian, lalu video panjang di YouTube bisa dipotong jadi YouTube Shorts,” jelasnya.
Ia juga menyoroti Facebook yang memiliki karakter unik dengan dominasi pengguna usia lebih matang, serta adanya grup komunitas yang aktif.
Baca Juga: Ramai dugaan mutasi pegawai buntut surat dinas ke New York bocor, Dody Hanggodo: Mutasi kan biasa
Konten storytelling dan tautan link dinilai lebih efektif di platform tersebut.
Menurutnya, memahami perbedaan ini menjadi kunci agar konten bisa diterima dengan baik oleh audiens di masing-masing platform.
Tantangan kreator: Antara konsistensi dan burnout
Lebih lanjut, Agil menyinggung tantangan yang sering dihadapi konten kreator, yaitu tekanan untuk terus mengikuti tren.
Ia menilai kebiasaan mengejar topik viral tanpa strategi justru bisa memicu kelelahan atau burnout.
Baca Juga: Kebakaran berulang di eks TPA Panembong, Kang Rey tutup total: Dipicu gas metana
“Terus mencari topik trending bisa membuat kreator kelelahan, padahal dituntut untuk konsisten. Maka penting untuk punya kerangka konten yang jelas,” katanya.
Ia menyarankan kreator untuk melakukan riset topik terlebih dahulu, lalu menyusun kerangka konten yang bisa dikembangkan ke berbagai platform dengan format berbeda.
Website tetap punya peran penting
Tak hanya media sosial, Agil juga menekankan pentingnya website sebagai platform dengan umur konten yang lebih panjang.
Berbeda dengan media sosial yang cepat tenggelam, konten di website bisa terus ditemukan oleh audiens dalam jangka waktu lama.