Ia juga menyoroti pentingnya memberikan ruang bagi generasi muda dalam proses pengambilan kebijakan publik, mengingat banjir, longsor, dan bencana lingkungan lainnya terus terjadi akibat kurangnya perubahan mendasar dalam pengelolaan lingkungan.
Hadir sebagai pematik diskusi, pegiat lingkungan dari Kalimantan Selatan Al Bawi yang membagikan pengalamannya dalam gerakan Save Meratus.
Kawasan Meratus yang kaya akan keanekaragaman hayati telah lama menghadapi ancaman deforestasi, pertambangan, dan perubahan iklim.
Melalui kolaborasi lintas agama, Muhammadiyah berhasil membentuk kader peduli lingkungan, memperkuat kapasitas advokasi, dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian Meratus.
“Kolaborasi lintas agama dan partisipasi aktif masyarakat adalah kunci dalam menghadapi krisis lingkungan,” ujar Al Bawi.
Ia berharap gerakan ini dapat menginspirasi inisiatif serupa di seluruh Indonesia, di mana generasi muda dapat menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi lingkungan.
Peran strategis lembaga keagamaan
Youth Work Manager and Integration Ashoka, Ara Kusuma menegaskan bahwa lembaga keagamaan memiliki peran strategis dalam upaya pelestarian lingkungan.
“Lembaga keagamaan dapat berperan melalui tiga aspek: edukasi dan kesadaran, aksi nyata, serta advokasi kebijakan,” jelasnya.
Ia mencontohkan inisiatif seperti penghijauan, pengelolaan sampah, dan kampanye kesadaran lingkungan yang dapat digerakkan oleh komunitas berbasis agama, khususnya anak muda.
“Ayo teman-teman, kita buat perubahan positif di sekitar kita dan dimulai dari hal yang sederhana. Mari ajak teman-teman yang lain supaya sadar dan membawa aksi nyata sebagai change maker,” ajak Ara.