Mulai dari dimensi spiritual sebagai sarana Panca Yadnya, budaya dalam arsitektur dan seni, hingga fungsi sosial melalui tradisi gotong royong atau ngayah.
Selain itu, bambu juga berperan dalam menjaga lingkungan, seperti konservasi air dan pencegahan erosi, serta memiliki nilai ekonomi sebagai komoditas ekspor dan bahan eco-tourism.
Rangkaian kegiatan berbasis literasi
Selama tiga hari pelaksanaan, festival ini menghadirkan berbagai kegiatan berbasis literasi yang melibatkan unsur pentahelix, yakni akademisi, komunitas, pemerintah, pelaku usaha, dan media.
Beberapa agenda utama di antaranya Bamboo Talk yang membahas peran bambu dalam kehidupan modern, Bamboo Stage yang menampilkan karya seni berbasis bambu, serta Bamboo Show berupa pameran dan lomba instalasi bambu oleh desa adat.
Selain itu, terdapat Bamboo Market yang menghadirkan produk kuliner dan kerajinan berbahan bambu, serta Bamboo Movement berupa aksi penanaman bambu sebagai langkah konkret pelestarian lingkungan.
Baca Juga: Viral ‘pocong keliling’ resahkan warga, diduga modus teror hingga perampokan
Dorong regulasi dan perhatian dunia
Melalui kolaborasi dengan Yayasan Bambu Lingkungan Lestari dan dukungan Indonesia Creative Cities Network (ICCN), Samsara Living Museum berharap festival ini tidak hanya menjadi ajang budaya, tetapi juga mampu mendorong lahirnya kebijakan yang berorientasi pada pelestarian alam.
Lebih dari itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menarik perhatian dunia terhadap potensi besar bambu Indonesia sebagai solusi berkelanjutan dalam menghadapi tantangan lingkungan global.***