GENMILENIAL.ID – Upaya menjaga keseimbangan antara pariwisata, budaya, dan lingkungan terus digaungkan di Bali.
Salah satunya melalui gelaran Samsara Bamboo Festival 2026 yang resmi diselenggarakan di Samsara Living Museum, Jungutan, Karangasem, pada 22–24 Mei 2026.
Festival yang diinisiasi Perkumpulan Samsara Raksa Budaya bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia ini mengusung tema 'Jagath Karana'.
Tema tersebut menekankan pentingnya harmoni antara manusia, alam, dan budaya dalam menghadapi tantangan pembangunan pariwisata yang kian pesat.
Baca Juga: Angka kemiskinan Subang 9,23 persen, penerima PKH capai 55 ribu keluarga
Respons atas dampak pariwisata Bali
Pesatnya perkembangan pariwisata di Bali memang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga menimbulkan berbagai kerentanan, mulai dari tekanan terhadap lingkungan hingga perubahan sosial budaya masyarakat.
Ketua Perkumpulan Samsara Raksa Budaya, Ida Bagus Agung Gunarthawa, menyebutkan bahwa Bali belakangan ini kerap dihadapkan pada bencana alam seperti banjir dan tanah longsor akibat ketidakseimbangan pembangunan dan pelestarian lingkungan.
“Kita butuh strategi untuk memperkuat nilai dasar suatu daerah agar masyarakatnya percaya diri menjadi tuan di rumah sendiri," ujar Ida Bagus.
"Samsara Bamboo Festival hadir untuk melahirkan pola pengembangan yang menyelaraskan antara preservasi budaya, konservasi lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan tanaman bambu,” sambungnya.
Bambu disebut ‘emas hijau’ Bali
Dalam festival ini, bambu diangkat sebagai simbol sekaligus solusi. Di Bali, bambu dikenal sebagai 'emas hijau' karena memiliki peran penting dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.