GENMILENIAL.ID - Tokoh masyarakat dan juga purnawirawan TNI AD, Letnan Kolonel CHK (Purn) Mochamad Lukmantias Amin (Kang Lukmantias) menyebut bahwa kepemimpinan adalah seni.
"Masalah kepemimpinan, itu yang saya pelajari dan juga diterapkan selama saya bertugas di TNI Angkatan Darat dan juga setelah purnabakti dari TNI Angkatan Darat itu adalah satu seni," kata Kang Lukmantias.
Ketika seseorang menjadi pemimpin dan menerapkan leadership, kata lelaki yang mengambil Strata 2 Magister Hukum Bisnis Universitas Indonesia ini itu harus memiliki keluwesan, seperti sikap adaptif dan kolaboratif, namun tetap juga ada ketegasan.
"Artinya seni itu kapan harus naik, kapan harus turun, nadanya seperti itu kurang lebih kalau seni itu kan, kapan harus stagnan disatu nada tertentu," ujarnya.
Baca Juga: ASEAN, Jejak sejarah dan peran penting dalam mewujudkan kerjasama regional
Dengan seperti itu, kata Kang Lukmantias, outputnya tidak ada pemimpin yang otoriter terus menerus, namun ia tahu kapan juga harus egaliter.
"Yang menjadi acuan seni kepemimpinan itu, selama yang saya dapatkan dilingkungan TNI itu adalah sebelas asas kepemimpinan TNI," ucapnya.
Sebelas kepemimpinan itu, yang pertama adalah takwa, kemudian Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, waspada purbawisesa, ambek parama arta, prasaja, satya, belaka, legawa dan gemi nastiti.
"Yang pertama seorang pemimpin itu harus takwa, kita dilandasi oleh pancasila, kita harus yakin kepada keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, karena itu yang menjadi landasan dan juga filosofis seluruh bangsa Indonesia," ujarnya.
Baca Juga: Pemeriksaan ulang kasus pembunuhan Ibu dan anak, Kuasa Hukum Yosef berharap pelaku segera ditemukan
Selanjutnya, yaitu Ing ngarsa sung tulada atau memberikan keteladanan, figur yang memberikan keteladanan itu sangat penting untuk menginspirasi bawahan, masyarakat untuk berbuat sesuai dengan suri teladan yang ditunjukan oleh pemimpin.
"Jangan mengharapkan suatu organisasi, menjadi suatu organisasi yang baik, profesional, efektif dan efisien ketika pemimpinya sendiri misalkan tidak bisa memberikan keteladanan," jelasnya.
Disamping kepercayaan kepada Tuhan YME, poin berikutnya dalam kepemimpinan adalah keteladanan, kemudian berikutnya adalah ing madyo mangun karso, yaitu bisa mempengaruhi, bisa menggerakan.
"Mereka yang dibawah pimpinanya untuk berbuat, untuk melakukan, sesuai tugas tanggung jawabnya, sesuai dengan kemampuanya secara optimal, jadi memberikan yang terbaik," ujarnya.