GENMILENIAL.ID — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda sejumlah kawasan di Kalimantan Tengah hingga Kamis, 3 September 2026.
Di tengah kondisi tersebut, Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menjadi sorotan setelah sebelumnya mendapat kritik terkait penanganan bencana.
Kritik terhadap Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah disampaikan massa saat menggelar aksi di Kantor Gubernur Kalteng, Palangka Raya, pada Selasa, 1 September 2026.
Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan sejumlah aspirasi kepada pemerintah daerah, mulai dari dampak kabut asap, perlindungan masyarakat, hingga transparansi anggaran penanganan bencana karhutla.
Agustiar mengatakan pemerintah terbuka terhadap kritik dan masukan yang disampaikan masyarakat.
Menurutnya, aspirasi tersebut penting untuk menjadi bahan evaluasi sekaligus memperkuat kebijakan pemerintah dalam menghadapi bencana.
"Saya justru menyukai kritik dan masukan seperti ini. Jangan dikira saya tidak suka, saya bangga," kata Agustiar.
Baca Juga: BGN dibayangi isu pengadaan LED dengan angka total Rp535 miliar, urgensinya masih tanda tanya
Ia juga menegaskan dirinya tidak ingin menyerah dalam menghadapi persoalan karhutla yang terjadi di wilayahnya.
"Saya harus maju. Saya tidak boleh menyerah," imbuhnya.
Terjun langsung ke lokasi karhutla
Pada hari yang sama, Agustiar tampak berupaya menunjukkan keseriusannya dalam menangani karhutla dengan terjun langsung ke lokasi terdampak.
Gubernur Kalteng tersebut memilih meninjau area belakang Kampung UPE, Palangka Raya. Namun, medan yang harus dilaluinya tidak mudah.