Sudaryono mengungkapkan bahwa situasi di lapangan sempat memanas dengan adanya pelemparan air hingga dugaan tindakan fisik.
“Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar,” ungkapnya.
Baca Juga: Momen Nanik S Deyang ngacir hindari wartawan saat ditanya soal motor listrik, buru-buru masuk mobil
Meski demikian, ia kembali menegaskan bahwa kepergian tersebut bukan bentuk menghindar, melainkan demi alasan keamanan.
Bahkan, Sudaryono mengklaim sempat kembali turun untuk melanjutkan dialog bersama mahasiswa.
“Bahkan saat mobil kami dicegat, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog,” katanya.
Mahasiswa sebut aksi bentuk kritik
Di sisi lain, perwakilan mahasiswa dari Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM, Mesa, menyampaikan bahwa penghentian diskusi merupakan bentuk kritik terhadap pemerintah.
Baca Juga: Pagu anggaran 2027 Rp270 triliun, BGN buka peluang siswa SMA tak mendapat MBG lagi
Ia menilai, tindakan tersebut muncul karena mahasiswa merasa suaranya tidak didengar.
“Mereka tidak layak membicarakan Pancasila selama masih membungkam suara rakyat,” ujar Mesa.
Menurutnya, gesekan dalam forum tersebut merupakan hal yang wajar dalam dinamika demokrasi, terutama ketika kritik tidak lagi mendapat respons secara terbuka.
“Gesekan itu terjadi karena mereka tidak bisa lagi diingatkan secara halus,” tegasnya.
Baca Juga: Pidato haru Ivar Jenner di pernikahan Justin Hubner viral, kenang mendiang Noah Gesser
Sorotan publik terhadap ruang dialog