news

Kekeringan ancam 1.843 hektare sawah, Bupati Subang desak normalisasi saluran air sekunder

Selasa, 12 Agustus 2025 | 20:21 WIB
Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita BR pimpin rapat koordinasi percepatan penanganan kekeringan di Aula Kecamatan Pusakanagara, Selasa 12 Agustus 2025 (Dok. Istimewa)

GENMILENIAL.ID – Kekeringan yang melanda wilayah Pantura Subang kian memprihatinkan.

Sedikitnya 1.843 hektare areal persawahan terdampak, mengancam produksi pangan dan kesejahteraan petani di lima kecamatan Pusakanagara, Pusakajaya, Pamanukan, Compreng, dan Legonkulon.

Bupati Subang, Reynaldy Putra Andita BR atau Kang Rey, menegaskan perlunya langkah cepat dalam rapat koordinasi percepatan penanganan kekeringan di Aula Kecamatan Pusakanagara, Selasa 12 Agustus 2025. 

Baca Juga: Anggota DPRD Subang H. Anharudin serap aspirasi warga Pabuaran, dari peternakan domba hingga jalan kampung

“Kami sangat memohon kepada Kepala BBWS Citarum agar segera dilakukan normalisasi pada saluran sekunder yang menjadi titik hambatan air,” kata Kang Rey.

Menurut laporan Asisten Daerah Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, H. Rahmat Efendi, penyebab utama kekeringan adalah pendangkalan saluran air sekunder serta perlunya penyempurnaan Siphon Jatireja.

Kondisi ini membatasi pasokan air ke wilayah hilir, membuat lahan pertanian rawan gagal panen.

Bupati mengingatkan bahwa Subang memegang peran vital dalam ketahanan pangan nasional.

Baca Juga: Perumda Tirta Rangga Subang terapkan manajemen risiko untuk perkuat tata kelola perusahaan

“Kabupaten Subang merupakan lumbung padi nasional. Banyak daerah menggantungkan pasokan pangan pada Subang,” ujarnya.

Selain normalisasi, Kang Rey meminta Perum Jasa Tirta II (PJT II) untuk meninjau ulang jadwal tanam.

Ia menilai sinkronisasi masa tanam sangat penting agar kekurangan air tidak kembali terjadi.

“Bagaimanapun, ketika sungainya sudah dinormalisasi dan sistem sudah diperbaiki, jika musim tanamnya tidak disesuaikan maka permasalahan ini akan terulang. Jangan sampai ada kecamatan yang dikorbankan,” tegasnya.

Baca Juga: Fenomena 'joki Strava' merebak di Indonesia: Bayar pelari demi pencitraan digital

Halaman:

Tags

Terkini