"Kami mencoba tetap tenang walau ada rasa takut," kata Yoshida.
Ia menambahkan, rumahnya berada di dataran rendah.
Baca Juga: Viral pria ngaku dokter spesialis THT dari UI dan Singapura, kini tinggal di kolong jembatan Demak
Jika ia sedang berada di rumah saat alarm berbunyi, kemungkinan besar ia harus berlari mencari tempat yang lebih aman.
"Saya bersyukur tempat evakuasi ini dekat. Kalau tidak, saya akan sangat panik," tuturnya.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat tinggi gelombang tsunami relatif kecil, berkisar antara 20 hingga 50 sentimeter.
Namun, peringatan serius tetap diberlakukan karena potensi gelombang susulan.
JMA pertama kali mengeluarkan peringatan pada pukul 08.37 waktu setempat, lalu meningkatkan statusnya menjadi tsunami warning pukul 09.40.
Wilayah pantai Pasifik dari Hokkaido hingga Ibaraki turut melaporkan gelombang 20–40 sentimeter, sementara Ishinomaki, Prefektur Miyagi, mencatatkan gelombang setinggi 50 sentimeter.
Pemerintah Jepang juga langsung bereaksi cepat. Perdana Menteri Shigeru Ishiba mengimbau warga di wilayah terdampak agar segera mengungsi.
"Saya meminta seluruh warga di area terdampak untuk segera mengungsi ke dataran tinggi atau lokasi yang aman," katanya.***
Artikel Terkait
Kenali penyebab dan cara mengurangi akibat bencana Tsunami, apa saja?
Hari Kesadaran Tsunami Sedunia, mengenang tragedi mengerikan yang mengubah dunia
26 Desember, Peringatan Tsunami Aceh pada 17 tahun yang lalu
Kisah pedesaan yang tahan dari terjangan tsunami di Jepang, ternyata karena tanggul laut raksasa ini
Sempat muncul kekhawatiran penurunan layanan informasi, Kepala BMKG pastikan anggaran pengelolaan gempa bumi dan tsunami tak terpengaruh efisiensi
BMKG minta masyarakat waspada adanya potensi tsunami saat lebaran 2025, ini titik lokasinya
Penyebab BMKG keluarkan peringatan potensi tsunami saat lebaran di DIY dan imbauannya