Mereka sering membuat komentar atau postingan yang bertujuan untuk menciptakan konflik antara dua pihak atau lebih.
Hal ini dilakukan untuk mendapatkan perhatian atau hanya karena kesenangan pribadi melihat orang lain bertikai.
4. Menggunakan akun palsu
Netizen toxic sering menggunakan akun palsu atau anonim untuk melancarkan aksinya.
Dengan identitas yang tidak jelas, mereka merasa lebih bebas untuk menyebarkan ujaran kebencian dan komentar julid tanpa takut akan konsekuensi.
Akun palsu ini sering kali memiliki nama dan foto profil yang tidak jelas atau menggunakan nama samaran.
5. Tidak mau mengakui kesalahan
Ketika dikonfrontasi atau diajak berdiskusi secara baik-baik, netizen toxic dan julid cenderung tidak mau mengakui kesalahan mereka.
Mereka akan terus mencari alasan untuk membenarkan tindakan mereka, bahkan ketika sudah jelas mereka berada di pihak yang salah.
Hal ini membuat diskusi menjadi tidak produktif dan hanya memperburuk situasi.
6. Menyebarkan berita hoaks
Mereka juga kerap kali menjadi penyebar berita hoaks atau informasi yang tidak benar.
Baca Juga: Mengapa investasi pendidikan di era digital itu penting? simak ulasanya
Tanpa melakukan verifikasi atau cek fakta, netizen toxic akan dengan cepat membagikan informasi yang belum tentu kebenarannya.