GENMILENIAL.ID – Tantangan industri media di era digital kembali jadi sorotan dalam Mediapreneur Talks 2025 yang digelar Promedia Teknologi Indonesia (PTI) di Hotel Santika Premiere Gubeng, Surabaya, Kamis, 25 September 2025.
Acara yang menjadi bagian dari roadshow Journalism 360: Jurnalisme Berkualitas dan Berkelanjutan ini menghadirkan sejumlah tokoh media, pelaku bisnis, dan pejabat publik untuk membahas arah masa depan media, khususnya di tengah perubahan lanskap digital dan kebutuhan insentif bagi jurnalis.
Sorotan insentif media
Salah satu isu utama datang dari Dr. Guntur Syahputra Saragih, anggota Komite Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Mendukung Jurnalisme Berkualitas (KTP2JB).
Ia menyoroti absennya kebijakan insentif bagi industri media, padahal sektor lain seperti pariwisata dan transportasi daring mendapat keringanan pajak.
“Bayangkan, insentif tahun 2026 ada untuk ojol dan pariwisata, tapi media tidak. Padahal wartawan juga perlu ‘bernapas’ agar bisa menjaga kualitas jurnalisme,” tegas Guntur.
Optimisme bisnis media
Sementara itu, CEO Promedia Agus Sulistriyono menekankan pentingnya kolaborasi untuk mempertahankan brand media di tengah ketatnya persaingan digital.
“Bisnis informasi tidak akan pernah mati, hanya mediumnya yang berganti. Maka kolaborasi dan penguatan multi-platform menjadi kunci,” jelas Agus.
Baca Juga: Baru 66 persen, Kang Rey tetap optimis target PAD Subang Rp950 miliar tercapai akhir tahun
Promedia, kata Agus, hadir memberi dukungan teknologi, infrastruktur, dan strategi monetisasi berbasis economic sharing atau gotong royong.
Tren iklan digital
Dari sisi periklanan, CEO ProPS Ilona Juwita mengungkapkan iklan digital di Indonesia pada 2025 diproyeksikan tumbuh 5,1 persen dengan nilai mencapai Rp64,9 miliar.