karir-bisnis

Bahlil: Indonesia punya SDA, China punya teknologi, proyek baterai listrik jadi kolaborasi kunci masa depan

Jumat, 4 Juli 2025 | 12:29 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat membuka acara Human Capital Summit 2025 (Instagram/bahlillahadalia)

GENMILENIAL.ID – Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kolaborasi Indonesia dan China dalam proyek Ekosistem Industri Baterai Listrik Terintegrasi merupakan bentuk kerja sama yang saling melengkapi: Indonesia kuat di sumber daya alam, sementara China unggul dalam teknologi dan pasar.

Hal tersebut disampaikan Bahlil saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam groundbreaking proyek industri baterai di Kawasan Artha Industrial Hills (AIH), Karawang, Minggu, 29 Juni 2025.

“Proyek ini adalah kolaborasi antara negara yang punya sumber daya alam dan negara yang punya teknologi serta market,” ujar Bahlil.

Baca Juga: Tak biasanya hadir di groundbreaking, Prabowo dapat sorotan khusus dari Bahlil

Rp95 triliun dan pemain global dalam satu proyek strategis

Proyek tersebut merupakan hasil kerja sama antara perusahaan Indonesia yaitu ANTAM dan Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan konsorsium China CATL–Brunp–Lygend (CBL). Nilai investasinya mencapai 5,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp95,43 triliun.

Bahlil menyebut Indonesia memiliki hampir semua bahan baku baterai seperti nikel, mangan, dan kobalt, kecuali lithium. Namun, menurutnya, Indonesia masih belum menguasai teknologi pengolahan secara menyeluruh.

“Teknologi memang belum terlalu kita miliki secara komprehensif, karena itu kita lakukan kerja sama dengan CATL, perusahaan baterai mobil terbesar di dunia,” jelas Bahlil.

Baca Juga: Duka selebritas Indonesia atas kepergian Diogo Jota: Kita kehilangan nomor 20 dan gelar ke-20

Target produksi: 15 GWh, dimulai 2026

Dalam rencana jangka panjangnya, proyek ini ditargetkan akan memproduksi baterai listrik hingga 15 GWh, dengan tahap pertama mencapai 6,9 GWh pada tahun 2026.

Produk dari fasilitas ini akan mendukung pasar kendaraan listrik nasional dan ekspor.

Kawasan industri yang berlokasi di Karawang akan difokuskan sebagai pusat hilirisasi teknologi baterai, sementara lokasi lain di Halmahera Timur, Maluku Utara akan menjadi basis produksi bahan baku.***

 

Tags

Terkini