humaniora

Presiden Macron sentuh arca di stupa Borobudur, ini penjelasan mitos Kunto Bimo

Senin, 2 Juni 2025 | 08:52 WIB
Momen Presiden Macron di Candi Borobudur bersama Presiden Prabowo (Kolase Instagram/prabowo - emmanuelmacron)

GENMILENIAL.ID - Presiden Prancis Emmanuel Macron menyempatkan diri mengunjungi Candi Borobudur dalam rangkaian kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada Kamis, 29 Mei 2025.

Ia didampingi langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto saat menapaki salah satu warisan budaya dunia yang terletak di Magelang, Jawa Tengah.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang turut hadir dalam kunjungan tersebut menyebut Macron sangat terkesan dengan keindahan dan nilai sejarah Candi Borobudur.

Baca Juga: YBAI soroti aksi sentuh arca Buddha oleh Macron dan Brigitte di Borobudur: Aturan jangan tebang pilih

“Beliau sangat impressed sekali dengan Candi Borobudur. Dia berkeliling, bertemu juga dengan biksu-biksu dan bante-bante di atas, ngobrol dengan mereka, dan sangat menikmati ya kunjungan beliau,” ujar Fadli kepada awak media.

Fadli juga mengungkapkan bahwa Presiden Macron sempat mencoba menyentuh arca Buddha yang berada di dalam salah satu stupa.

Aksi ini merujuk pada tradisi populer yang dikenal dengan mitos Kunto Bimo.

Mitos Kunto Bimo dipercaya masyarakat sebagai ritual keberuntungan. Konon, bagi pengunjung laki-laki yang berhasil merogoh dan menyentuh jari manis atau kelingking arca Buddha dalam stupa akan mendapatkan keberuntungan.

Sementara itu, pengunjung perempuan disebut perlu menyentuh bagian telapak kaki atau tumit.

Baca Juga: Antisipasi premanisme, Kapolsek Subang gelar patroli di pasar dan terminal

Nama 'Kunto Bimo' sendiri berasal dari bahasa Jawa, di mana 'Kunto' berasal dari kata 'ngenta-ento' yang berarti permintaan dan mendapatkan, sedangkan 'Bimo' merujuk pada tokoh Bima dalam kisah Mahabarata.

Namun, arkeolog Soekmono—yang memimpin pemugaran Candi Borobudur—pernah menegaskan bahwa mitos tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran agama Buddha.

Ia menyebut bahwa Kunto Bimo adalah bentuk kepercayaan lokal yang berkembang di luar konteks spiritualitas Buddhis.

Meski demikian, aksi menyentuh arca dalam stupa kini telah dibatasi demi menjaga kelestarian situs, sebagaimana disampaikan sejumlah komunitas Buddhis.***

Halaman:

Tags

Terkini