humaniora

Sutan Syahrir: Pemikir sunyi di balik proklamasi kemerdekaan

Sabtu, 10 Mei 2025 | 17:46 WIB
Sutan Syahrir (Instagram.com/@historicalpedia)

Melawan dua penjajahan: Kolonialisme dan totalitarianisme

Di masa revolusi, Syahrir menulis Perjuangan Kita, karya penting yang merefleksikan pandangan politiknya.

Baca Juga: Jalin keakraban lewat olahraga, PT Dahana dan GreenTeams gelar laga voli persahabatan

Ia mengkritik kekerasan yang dilakukan atas nama revolusi dan memperingatkan bahaya kediktatoran, baik dari kiri maupun kanan.

Ia berkata:
“Kita sedang menciptakan manusia baru yang berpikir dan bertindak merdeka, bukan manusia yang hanya mengganti penjajah.”

Baginya, kemerdekaan sejati bukan hanya mengganti kulit penguasa, tetapi mengubah cara berpikir bangsa—dari tunduk pada kekuasaan menuju warga negara yang kritis dan sadar haknya.

Pemikir yang tersisih

Ironisnya, sosok secerdas Syahrir perlahan terpinggirkan dari panggung politik nasional. Dalam suasana politik yang semakin keras dan penuh intrik, ia memilih jalan sunyi.

Baca Juga: Turun langsung ke desa, Kang Rey pastikan jalan rusak tak lagi jadi masalah warga

Namun warisan pemikirannya tak pernah mati—terus hidup dalam ruang-ruang diskusi, buku-buku sejarah, dan nurani anak muda yang masih percaya pada kekuatan akal sehat.

Warisan yang patut dikenang

Sutan Syahrir bukan sekadar politisi. Ia adalah moral compass dalam badai revolusi.

Dalam diamnya, ia mengajarkan bahwa politik tak harus gaduh, bahwa kekuasaan bisa dijalani dengan kesantunan dan integritas.

Generasi muda hari ini punya banyak alasan untuk membaca kembali pemikiran Syahrir.

Di tengah riuh rendah politik yang sering kehilangan arah, warisan idealismenya menjadi penanda bahwa kemerdekaan sejati dimulai dari keberanian berpikir merdeka.***

Halaman:

Tags

Terkini